kumparan
5 Jun 2018 7:05 WIB

Kemenperin: Polytron Akan Jadi Samsung-nya Indonesia

Kunjungan Airlangga Hartarto ke Pabrik Polytron. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Polytron menjadi salah satu merek produk elektronik lokal yang bertahan hingga saat ini. Sejak didirikan oleh bos Djarum Group Budi Hartono pada 1975 silam, Polytron sudah mengeluarkan berbagai produk elektronik untuk kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Harjanto, mengatakan salah satu kunci yang membuat Polytron bertahan hingga saat ini adalah sudah membentuk divisi Research and Development (R&D) sejak lama. Di R&D inilah produk yang dibuat terlebih dahulu dirancang oleh desainer lokal.
“Ya yang punya fasilitas R&D itu kan mereka. Dia mengembangkan terus. Semua produk didesain di dalam negeri. Ini yang membuat kita optimistis Polytron suatu saat bisa jadi Samsung-nya Indonesia. Kita akan dorong terus,” kata Harjanto saat ditemui di Pabrik Polytron, Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/6).
Menurut Harjanto, bukanlah hal mudah bertahan dalam era ketika perkembangan teknologi begitu cepat. Dia mencontohkan beberapa tren televisi yang muncul dan hilang. Di tengah perubahan tren tersebut, Polytron tetap bertahan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Katanya, saat tren TV Eropa masuk Indonesia, Polytron masih tetap eksis memproduksi TV buatannya. Begitu pun saat TV dari merek Jepang, Korea, dan China masuk, perusahaan bernama PT Hartono Istana Teknologi (HIT) ini masih tetap eksis.
“Sekarang masuk TV China, dia juga masih eksis. Tapi eksis saja enggak gampang. Karena kita sudah lihat ada yang muncul, hilang, muncul, hilang (tapi Polytron tetap ada). Kenapa bisa begitu? Karena inovasi. Inovasi apa yang mendukung? R&D-nya,” tegas Harjanto.
Selain Polytron, pabrik elektronik lokal lainnya sebenarnya ada. Hanya saja, menurut Harjanto R&D mereka belum semaju Polytron. Sisanya, kata dia adalah perusahaan asing seperti Panasonic yang memiliki parent company di Jepang.
com-Polytron (Foto: Thinkstock)
Di pabrik Polytron seluas 109.000 m2 ini diproduksi berbagai alat elektronik seperti TV, Handphone, AC, Audio, Dispenser, dan DVD Player. Dua pabrik lainnya yang terletak di Kudus dan Semarang masing-masing memproduksi speaker, kulkas, dan mesin cuci.
ADVERTISEMENT
Adapun rata-rata jumlah produksi masing-masing barang yang dibuat, antara lain alat video 2 juta unit/tahun, alat audio 1,6 juta unit/tahun, mobile phone 3 juta unit/tahun, speaker parts 19 juta unit/tahun, dan active speaker 850 ribu unit/tahun.
Sementara untuk alat elektronik dapur seperti lemari es 1,8 juta unit/tahun, AC 100 ribu unit/tahun, mesin cuci 900 ribu unit/tahun, dispenser 120 ribu unit/tahun, showcase 300 ribu unit/tahun, dan rice cooker 300 ribu unit/tahun.
“Ya yang paling berkembang di lokal dia. Produknya banyak, mulai dari audio, home appliances, smartphone, smart TV. Mereka semua didesian tenaga dan insinyur sendiri. Dan dia akan bangun R&D 6 lantai karena masih kurang,” ucapnya.
Sebanyak 95% produk Polytron dijual di dalam negeri dengan jumlah 20 sales office, 64 service center, dan 2.500 dealer. Adapun sisanya dieskpor ke 52 negara, di antaranya Thailand, Myanmar, Bangladesh, Spanyol, Arab Saudi, Srilanka, dan Filipina.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan