kumparan
Bisnis7 Mei 2019 20:41

Kimia Farma Berencana Akuisisi Perusahaan Farmasi di Vietnam

Konten Redaksi kumparan
Kimia Farma, Surabaya, Jawa Timur
Konsep terbaru outlet Kimia Farma ‘Health & Beauty’, di Surabaya, Jawa Timur. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan
PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) berencana mengakuisisi satu perusahaan farmasi di Vietnam. Perusahaan itu memiliki sekitar 400 outlet.
ADVERTISEMENT
Direktur Keuangan Kimia Farma I Gusti Nyoman Suharta Wijaya bilang, jumlah outlet yang dimiliki perusahaan tersebut memang lebih sedikit ketimbang Kimia Farma yang mencapai ribuan outlet. Kendati demikian, nilai pendapatannya setara Rp 4 miliar per outlet setiap bulannya.
"Sedangkan Kimia Firma Rp 1,5 miliar per outlet setiap bulan. Jadi itu produktivitasnya outlet perusahaan Vietnam itu bagus," katanya di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa (7/5).
Dalam aksi korporasi ini, emiten dengan kode KAEF ingin menjadi pemilik saham mayoritas. Oleh karena itu, Kimia Farma sedang menunggu hasil regulasi di negara tersebut.
Jika regulasi di Vietnam memungkinkan, KAEF menjadi pemegang saham mayoritas maka proses akuisisi akan dilanjutkan. Sebaliknya, apabila perseroan tidak bisa menjadi pemilik mayoritas di perusahaan farmasi tersebut maka aksi korporasi ini akan dihentikan.
ADVERTISEMENT
"Jadi sangat bergantung pada regulasi. Jika kita lihat tidak bisa menjadi pemilik mayoritas itu kita akan pull out, daripada uang kita hilang," ujar dia.
RUPST Kimia Farma di Hotel Kempinski
Suasana saat RUPST Kimia Farma di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat. Foto: Abdul Latif/kumparan
Sebelumnya, Kimia Farma juga sudah melakukan ekspansi internasional dengan akuisisi perusahaan farmasi di Arab Saudi, yakni Dawaa Medical Limited Company, yang merupakan anak usaha Marei Bin Mahfouz (MBM) Group pada tahun lalu. Hal ini membuat perusahaan BUMN itu menjadi pemilik mayoritas, yakni menguasai 60 persen saham. Perusahaan di Arab Saudi ini memiliki 34 outlet.
Suharta mengatakan, jika proses akuisisi perusahaan farmasi di Vietnam berhasil, maka diharapkan bisa mendorong kontribusi pendapatan perseroan dari outlet di luar negeri sebesar 15 persen.
"Saat ini kontribusi pendapatan dari outlet di luar negeri itu 10 persen. Kita harapkan jadi bisa naik menjadi 15 persen," katanya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan