kumparan
3 Agustus 2018 11:03

Kinerja Perusahaan Kinclong, Direksi WIKA Curhat Sahamnya Kemurahan

Kereta LRT Kelapa Gading
Kereta LRT Kelapa Gading (Foto: ANTARAA FOTO/Sigid Kurniawan)
Kinerja keuangan BUMN sektor konstruksi, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA makin konclong, namun direksi menilai harga sahamnya kemurahan (undervalued). Direktur Keuangan WIKA Antonius NS Kosasih menilai, harga saham pereseroan saat ini sama sekali tak mencerminkan kondisi fundamentalnya.
ADVERTISEMENT
Menurut pria yang biasa disapa Steve itu, rendahnya harga saham WIKA dipengaruhi oleh isu-isu di sektor konstruksi yang kurang kondusif. “Padahal dibandingkan sektornya, performa WIKA sebagai perseroan tidak selalu sama dengan saham-saham sektor konstruksi lainnya,” kata Steve saat temu media di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (2/8) malam.
Secara year to date, harga saham WIKA cenderung stagnan di kisaran Rp 1.565-Rp 1.570. Padahal tren earning per share (EPS) atau produktivitas setiap saham dalam meraih pendapatan terus naik.
Pada semester I 2018, perusahaan mencatatkan laba Rp 633 miliar atau naik 30 persen dari periode sama tahun 2017 yang sebesar Rp 487 miliar. Sedangkan jika ditarik ke belakang, dalam 4 tahun terakhir pertumbuhan laba Wijaya Karya rata-rata sebesar 42,22 persen, lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatannya sebesar 39,52 persen.
Direktur Keuangan WIKA, ANS Kosasih
Direktur Keuangan WIKA, ANS Kosasih di acara temu media, Jakarta, Kamis (3/8). (Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan)
“Angka pertumbuhan laba yang lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan ini, menunjukkan perusahaan beroperasi secara efisian,” katanya. Apalagi kontrak-kontrak baru yang diperoleh perusahaan juga terus tumbuh.
ADVERTISEMENT
Hingga akhir 2018, perusahaan telah meraih kontrak baru senilai Rp 58,11 triliun. Porsi proyek pemerintah paling kecil, yakni 16,23 persen. Yang terbesar proyek BUMN yakni 52,76 persen. Jika digabungkan dengan carry over project sebelumnya, proyek WIKA di 2018 ini total senilai Rp 72,5 triliun.
Dia memaparkan, beberapa isu sektor konstruksi yang menahan laju saham WIKA, seperti soal penghentian proyek infrastruktur untuk menahan impor, juga soal utang BUMN Karya yang dianggap terlalu besar sehingga berpotensi macet.
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)
“Saat ini kita punya dana cash perusahaan Rp 9,9 triliun. Sementara utang perusahaan Rp 14,2 triliun. Jadi enggak sampai sampai dua kali lipatnya,” papar Steve. Utang perusahaan sebesar itu, termasuk utang jangka pendek, medim term notes, dan utang jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Saham WIKA saat ini mayoritas masih dimiliki pemerintah yakni sebanyak 65,05 persen. Sedangkan yang dipegang publik 34,28 persen. “Dari saham publik itu, yang dipegang lokal masih mayoritas 21,21 persen. Asing sedikit. Sisa porsi saham selebihnya dipegang karyawan,” ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan