KKP: Harga Ikan Bakal Melonjak Imbas BBM Naik, Ada Potensi Krisis!

28 Juli 2022 17:47
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Siluet nelayan merapikan jaringnya di Perairan Tanjung Peni, Kota Cilegon, Banten. Foto: Antara/Dziki Oktomauliyadi
zoom-in-whitePerbesar
Siluet nelayan merapikan jaringnya di Perairan Tanjung Peni, Kota Cilegon, Banten. Foto: Antara/Dziki Oktomauliyadi
ADVERTISEMENT
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkap saat ini banyak kapal yang tidak melaut lantaran harga bahan bakar minyak (BBM) melambung. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Muhammad Zaini, menyebut kondisi itu berimbas pada kenaikan harga ikan.
ADVERTISEMENT
"Harga ikan ada sedikit peningkatan, karena harga ikan sedikit lebih mahal. Tapi tak bisa naik banyak," kata Zaini di Kantor KKP, Kamis (28/7).
Dari data yang dia paparkan, harga rata-rata ikan di pelabuhan yang disurvei oleh KKP pada bulan Juli 2022 mencapai Rp 24.887 per kg. Harga tersebut naik dibandingkan pada periode bulan Februari 2022 yang hanya Rp 22.975 per kg.
Zaini mengatakan kenaikan BBM juga berimbas pada ekspor hasil perikanan tangkap yang lesu, lantaran kini tengah terjadi krisis dunia sehingga negara importir menahan untuk melakukan impor ikan.
"Ini harus diwaspadai di sisa bulan di 2022 ini. Ini sangat membahayakan, bisa jadi pemicu krisis," kata Zaini.
BBM Mahal, Kapal Mangkrak di Pelabuhan
ADVERTISEMENT
Zaini menjelaskan komponen kebutuhan terbesar dalam perikanan tangkap adalah BBM yang mencapai 60-70 persen dari biaya operasional. Dengan situasi harga BBM yang mahal saat ini, dia menyebut jumlah kapal yang melaut berkurang 50 persen dibanding bulan Juli pada tahun lalu.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Dia tidak melakukan penangkapan, tidak berangkat karena mahalnya BBM. Kalau ini dipaksakan, ini akan terjadi kerugian," ujar Zaini.
Dari hitungannya, untuk kapal ukuran 60 gross tonnage (GT) dalam setahun empat kali berlayar kebutuhan BBM normalnya mencapai Rp 2 miliar, namun saat ini membengkak menjadi Rp 5 miliar.
"Kalau dalam satu tahun kapal di bawah 100 GT, dia harus mengeluarkan biaya pengeluaran Rp 5 miliar maka dia tidak akan dapat untung bahkan potensi kerugian sangat besar," jelasnya.
Sejumlah nelayan memanggul keranjang berisi ikan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, Jembrana, Bali, Kamis (21/7/2022). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah nelayan memanggul keranjang berisi ikan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, Jembrana, Bali, Kamis (21/7/2022). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
Jumlah Produksi Merosot
ADVERTISEMENT
Kondisi mangkraknya kapal di pelabuhan, membuat produksi perikanan tangkap menurun. Hal itu membuat peredaran ikan juga menurun dan disusul dengan harga ikan yang merangkak naik.
Data KKP menunjukkan produksi perikanan tangkap pada bulan Juli di posisi 12.462.504 kg, angka itu turun drastis jika dibanding produksi bulan April 2022 yang mencapai 36.025.753 kg. Atau jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi perikanan tangkap pada Juli 2021 sebesar 23.827.345 kg.
Zaini memprediksi hal ini akan semakin buruk di bulan-bulan berikutnya. “Semakin banyak kapal tak berangkat, produksi di bulan Agustus, September akan sangat drop,” ujarnya.