Laba Bersih Emiten Rokok Golongan 1 Merosot hingga Akhir Maret 2022

18 Mei 2022 13:51
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Laba Bersih Emiten Rokok Golongan 1 Merosot hingga Akhir Maret 2022 (9046)
zoom-in-whitePerbesar
Buruh linting rokok beraktivitas di salah satu pabrik rokok di Blitar, Jawa Timur, Kamis (25/3/2021). Foto: Irfan Anshori/Antara Foto
ADVERTISEMENT
Kinerja emiten rokok yang memproduksi di atas 3 miliar batang atau golongan 1 mengalami penurunan laba bersih yang signifikan di kuartal I tahun ini atau hingga akhir Maret 2022. Namun sebaliknya, emiten rokok di bawah golongan 1, yakni golongan 2 dan 3, mampu membukukan kinerja laba bersih yang positif.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari laporan keuangan perusahaan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (18/5), PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan penurunan laba bersih 38,5 persen (yoy) menjadi Rp 1,07 triliun sepanjang kuartal I 2022.
Biaya cukai, PPN, dan Pajak Rokok Gudang Garam pada kuartal I 2022 tercatat Rp 25,06 triliun atau naik 6,45 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar Rp23,54 triliun. Adapun biaya cukai dan pajak merupakan beban terbesar dari biaya pokok penjualan (COGS) perusahaan.
Hal serupa juga dialami PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Laba bersih HMSP di kuartal I 2022 tergerus 25,95 persen (yoy) menjadi Rp 1,91 triliun. Tergerusnya laba bersih ini tak lepas dari beban cukai dan pajak rokok yang melonjak 26,96 persen (yoy) menjadi Rp 17,94 triliun, dari Rp 14,13 triliun pada kuartal I 2021.
ADVERTISEMENT
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto, mengatakan bahwa menurunnya profitabilitas emiten rokok kelas premium dipengaruhi sentimen negatif kenaikan tarif cukai hasil tembakau. "Anjloknya laba GGRM dan HMSP dipengaruhi beban biaya operasional akibat kenaikan tarif cukai rata-rata 12 persen," katanya.
Selain itu, merosotnya laba bersih emiten rokok golongan 1 juga dipengaruhi peralihan konsumsi rokok dari rokok premium ke rokok yang lebih murah di golongan 2 dan 3. Menurutnya, hal ini juga dipengaruhi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Pabrikan golongan 2 dan 3 dalam posisi diuntungkan dengan selisih tarif sebesar 40 persen lebih rendah dari tarif cukai yang dibayar pabrikan golongan 1, sehingga mereka mampu mempertahankan margin profitabilitasnya tanpa menaikkan harga jual," jelas Fendi.
ADVERTISEMENT
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab kinerja perusahaan rokok pada golongan 2 dan 3 tidak mengalami penurunan secara signifikan. Bahkan beberapa di antaranya cenderung positif.
Pada kuartal I 2022, laba bersih PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) turun tipis 2,3 persen (yoy) menjadi Rp 37,68 miliar. Laba bersih PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) bahkan naik signifikan hingga 116 persen (yoy) menjadi Rp 3,79 miliar.
Sementara itu, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) membukukan laba bersih Rp 4,29 miliar, setelah pada periode yang sama 2021 membukukan rugi sebesar Rp 4,1 miliar. Tahun ini Bentoel resmi turun ke golongan 2 untuk keseluruhan portofolionya.
"Dengan turun ke golongan 2, COGS-nya tidak terlalu tinggi alias dapat menghemat kewajiban pembayaran cukai sebesar 40 persen. Ini menjadi kunci membalik kinerja Bentoel yang dalam beberapa tahun belakangan selalu merugi," tutur Fendi.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan keuangan, beban cukai dan pajak Bentoel kuartal I 2022 tercatat hanya Rp 686,4 miliar, turun lebih dari 38 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar Rp 1,11 triliun. Oleh karena itu, menurut Fendi, tren merosotnya kinerja pabrikan golongan 1 ini perlu menjadi perhatian khusus.
"Semakin besarnya beban cukai pabrikan golongan 1, akan mendorong pertumbuhan penjualan rokok murah dari perusahaan rokok golongan  2 dan 3. Jika ini tidak berubah, maka dalam jangka panjang era rokok murah akan terus berlanjut, sementara emiten pabrikan golongan 1 bisa habis," tambahnya.