kumparan
27 September 2018 13:09

Masalah Perizinan Hambat Perkembangan Sektor Pariwisata di Indonesia

Candi Borobudur
Sejumlah wisatawan di lokasi Candi Borobudur. (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Persoalan izin masih menjadi hal yang menghambat sektor pariwisata di Indonesia. Padahal, pemerintah mendorong sektor pariwisata sebagai penyokong ekonomi domestik setelah ekspor.
ADVERTISEMENT
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani, juga menganggap perizinan di Indonesia lebih sulit dibandingkan negara berkembang lainnya. Dia pun mencontohkan pariwisata di Thailand yang lebih mudah mengurus perizinan.
"Thailand karena akses dan perizinan mereka lebih pro bisnis, tapi kan kita negara kepulauan juga. Ketersediaan listrik, air, bagaimana kapal yang panjangnya 100 meter bisa provide listrik," ujar Rosan di acara Rakernas Pariwisata di Raffles Hotel Jakarta, Kamis (27/9).
Selain itu, lanjut dia, pemerintah Thailand juga mendorong pariwisata dari sisi insentif fiskal. Sementara pemerintah Indonesia justru menaikkan tarif pajak pada 1.147 komoditas impor.
"Sekarang pajaknya malah dinaikkan, jadi agak susah. Peraturannya sulit," katanya.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, Rosan menyarankan agar pemerintah bisa memberikan kebijakan yang bisa kembali mendorong investor untuk masuk ke Indonesia, termasuk adanya kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait.
Prilaku buruk wisatawan Candi Borobudur
Wisatawan memanjat dinding candi Borobudur. (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
"Harus ada kerja sama dengan kementerian lain agar ke depan bisa lebih berkembang," jelas dia.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengatakan sulitnya perizinan memang masih menjadi kendala di sektor pariwisata. Tak hanya di Indonesia, katanya, di negara berkembang lainnya juga perizinan masih menjadi kendala.
"Hal yang paling menghambat kita adalah permit atau perizinan. Ini sudah menjadi penyakit negara berkembang, mempersulit orang saat ingin berinvestasi. Untuk melakukan revolusi mental kepada seluruh aparat di Indonesia tidak cukup selama lima tahun saja," jelas Arief.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, perolehan devisa dari sektor pariwisata pada Juli 2018 mencapai USD 1,5 juta. Sehingga sejak awal tahun hingga Juli 2018, devisa dari pariwisata mencapai USD 9 juta.
Pertumbuhan sektor pariwisata mencapai 22 persen hingga Juli 2018, lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata di ASEAN yang hanya 7 persen dan dunia 6,4 persen.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan