kumparan
25 Januari 2018 11:05

Membandingkan Sawit RI dengan Minyak Nabati Buatan AS dan Uni Eropa

Kelapa Sawit
Ilustrasi Kelapa Sawit (Foto: Syifa Yulinnas/Antara)
Sawit Indonesia terus mendapat serangan kampanye negatif dari Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). Tuduhan itu di antaranya menyebut pengekspor biodiesel dari Crude Palm Oil (CPO) alias sawit Indonesia telah melakukan dumping.
ADVERTISEMENT
Tercatat, tuduhan itu sudah datang lebih dulu dari UE pada 2013 lalu. Saat itu, UE membawa kasus ini ke World Trade Organization (WTO). Dalam perjalanannya, tuduhan itu terbantahkan dan Indonesia menang.
Pada 26 November 2017, UE mengajukan banding namun segera dicabut pekan lalu. Saat ini Indonesia tengah menunggu implementasi dari pencabutan banding UE terhadap biodiesel sawit Indonesia.
"Pemerintah Indonesia tengah menyelesaikan kasus ini di WTO. WTO hanya bisa dilakukan oleh negara," kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (26/1).
Sedangkan tuduhan Amerika Serikat (AS) bukan hanya soal dumping. Tahun lalu, mereka juga menuding biodiesel sawit Indonesia disubsidi pemerintah sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dan merugikan pengusaha biodiesel Negeri Paman Sam yang menggunakan minyak kedelai.
ADVERTISEMENT
"Padahal, kegiatan kami tidak disubsidi. Jika yang dimaksud mereka adalah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), itu bukan dari pemerintah tapi 100% dari swasta," lanjutnya.
Paulus menduga ini adalah upaya untuk mematikan usaha sawit Indonesia. Sebab, jika dibandingkan secara harga, minyak sawit jauh lebih murah dibandingkan minyak nabati lainnya seperti soy oil, rapeseed oil, coconut oil, ataupun peanut oil.
Selisih harganya cukup jauh. Dibanding minyak nabati dari rapeseed buatan Uni Eropa, minyak sawit selalu lebih rendah 100-150 euro per ton. Sedangkan dibanding minyak kedelai, harga minyak sawit lebih rendah USD 70 per ton.
"Harga sawit selalu sekitar 100-150 euro per ton lebih rendah dari rapeseed. Kalau untuk soy oil, sawit selalu lebih murah sekitar USD 70 per ton," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Harga minyak sawit yang jauh lebih murah daripada minyak nabati lain ini bukan karena dumping. Sawit unggul karena produktivitasnya yang tinggi.
Jika dilihat dari efektivitas lahan, sawit membutuhkan lahan lebih sedikit dibanding kedelai dan rapeseed. Produktivitas sawit jauh lebih tinggi, setiap hektare lahan bisa menghasilkan 4 ton per tahun. Sedangkan minyak kedelai hanya 0,5 ton per hektare per tahun, rapeseed 0,8 ton per hektare per tahun.
Artinya, sawit sebenarnya lebih ramah lingkungan karena membutuhkan lahan yang lebih sedikit. Saat ini luas lahan sawit di seluruh dunia 20 juta hektare (Ha).
"Yang lainnya seperti rapeseed sekitar 35 juta hektare di dunia. Soy oil lebih banyak lagi, ada sekitar 100 juta hektare," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Dari sisi harga maupun keberlanjutan lingkungan, sawit dinilai lebih baik daripada kedelai, rapeseed, maupun bahan baku minyak nabati lainnya.
"Jelas kita yang lebih unggul dari semuanya. Termasuk yang paling kecil menggunakan lahan dan paling murah harga jualnya," katanya.
Jadi, apakah ada motif persaingan dagang di balik serangan kampanye hitam terhadap sawit?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan