Bisnis
·
13 Januari 2021 18:21

Mendag Minta Kebutuhan Jemaah Haji Dipenuhi UKM Lokal: Jangan Buatan China

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mendag Minta Kebutuhan Jemaah Haji Dipenuhi UKM Lokal: Jangan Buatan China (433581)
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. Foto: Dok. Istimewa
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan besarnya peluang pasar dari jemaah haji dan umrah Indonesia yang ke tanah suci setiap tahunnya. Ia menekankan, pasar tersebut harus dimanfaatkan oleh UKM Indonesia.
ADVERTISEMENT
Lutfi meminta semua pihak terkait bisa mendata keperluan jemaah haji dan umrah. UKM juga harus terus didorong menyiapkannya agar kebutuhan jemaah haji dan umrah asal Indonesia tidak didominasi barang dari luar negeri.
“Jangan sampai barang dari goodie bag yang mereka bawa itu sajadahnya buatan China, kemudian tasbih. Ini yang kita mesti komit bersama-sama agar seluruh barang yang mereka bawa itu buatan Indonesia dan setelah itu bagaimana kita bisa tularkan menjadi produk UKM,” kata Lutfi saat konferensi pers secara virtual, Rabu (13/1).
Mendag Minta Kebutuhan Jemaah Haji Dipenuhi UKM Lokal: Jangan Buatan China (433582)
Jemaah melaksanakan tawaf terakhir dalam rangkaian haji (Tawaf al-Wadaa) mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah. Foto: AFP/Abdel Ghani BASHIR
Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Kementerian Perdagangan bersama Kemenkop UKM, Kementerian Agama, dan KADIN telah menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama tentang optimalisasi peran UKM dalam memenuhi kebutuhan jemaah haji dan umrah. Lutfi menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen memajukan UKM Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Dan kalau boleh Bapak Wamenag, kita bersama-sama berkomitmen setiap jemaah haji yang berangkat yang jumlahnya lebih dari 221 ribu itu semua goodie bag-nya kalau bisa itu kita hitung dan berapa produksi Indonesia,” ujar Lutfi.
“Kemudian kita hitung lagi berapa UKM kita berkontribusi terhadap barang-barang yang sudah menjadi standar dari pada ONH tersebut,” tambahnya.
Meski begitu, Lutfi mengakui proses tersebut tidak mudah karena UKM harus memenuhi sertifikasi dari Saudi Food and Drug Authority. Tantangan tersebut harus diselesaikan karena potensi ekspor dari ibadah haji dan umrah cukup besar khususnya dari produk makanan.
“Seperti diutarakan oleh Bapak Wamenag setidaknya jemaah ini makan 85 kali dan mudah-mudahan makanan tersebut yang setidaknya USD 3,53 dolar atau Rp 50 ribu setiap kali makannya, bisa didominasi makanannya dari produk-produk Indonesia,” tutur Lutfi.
ADVERTISEMENT