kumparan
8 November 2019 20:43

Mendag Targetkan Perundingan GSP dengan AS Rampung Akhir 2019

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Istana Merdeka, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengatakan pihaknya akan mengirimkan tim untuk melakukan negosiasi bersama pemerintah Amerika Serikat (AS). Pengiriman tim menuju ke AS ini merupakan lanjutan dari pertemuan antara Mendag Amerika dan Presiden Jokowi.
ADVERTISEMENT
"Karena ini memang sangat segera dan respons Amerika sangat positif dengan kunjungan Menteri Perdagangan AS kemarin datang ke sini, mereka sangat positif dan menginginkan cepat sebelum Natal ini sebagai hadiah Natal. Mudah-mudahan ini juga lancar," katanya saat ditemui di Gedung Kemendag, Jakarta, Jumat (8/11).
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Istana Merdeka, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Mahendra Siregar menargetkan, penyelesaian Generalized System of Preferences (GSP) dari Amerika Serikat rampung dalam bulan ini. GSP merupakan kebijakan perdagangan suatu negara yang memberi pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima.
Hal ini sesuai amanat Presiden Jokowi yang menugaskan Mahendra untuk menyelesaikannya paling lambat satu bulan pascadilantik.
“Saya bukan dalam posisi untuk spesifik. Tapi kalau komitmen saya ke presiden kan satu bulan, dari waktu dilantik," kata dia di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (5/11).
Wamenlu RI Mahendra Siregar memberi sambutan di acara International Workshop on Crops for Peace di Hotel Borobudur, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Mahendra menyebut telah melakukan kunjungan ke AS dan membahas lebih lanjut terkait hal ini. Dia akan melihat apakah urusan GSP ini bisa rampung di akhir November, seperti komitmennya kepada Jokowi.
ADVERTISEMENT
“Kami masih selesaikan beberapa hal karena ini kan sifatnya cair sehingga diskusi masih berlangsung. Kami harapkan dalam waktu dekat," sebutnya.
Pihak Indonesia dan AS sejauh ini masih mendiskusikan dan mengevaluasi untuk mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan.
“Ini bagian dari diskusi dan evaluasi yang biasa. Jadi ada inilah ada pembahasan yang saya kira wajar saja. Untuk masing-masing pihak kan tentu ada kepentingan langsung tapi ada kepentingan bersama yang win-win. Saya rasa wajar," tambahnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan