Kumparan Logo

Mendag Zulhas: Petani Sawit Lampung Menangis, TBS Dijual Rp 700

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendag Zulhas berdialog dengan anggota Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Lampung, Sabtu (9/7/2022). Foto: Kementerian Perdagangan
zoom-in-whitePerbesar
Mendag Zulhas berdialog dengan anggota Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Lampung, Sabtu (9/7/2022). Foto: Kementerian Perdagangan

Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) hari ini berkunjung ke Lampung. Dalam agendanya tersebut, dia berdialog dengan para petani sawit di sana. Zulhas mengatakan para petani ada yang menangis karena tandan buah segar (TBS) mereka dibeli seharga Rp 700 per kg.

"Petani sawit ini ada yang nangis, harganya Rp 700 perak. Kalau dia Rp 700 perak, sekarang cabai aja Rp 100.000. Jadi kalau mau beli cabai berapa kilo dia jualannya (TBS)," kata Zulhas, Sabtu (9/7).

Zulhas mengatakan, saat ini Kemendag tengah berupaya untuk mempercepat ekspor CPO. Hal itu bertujuan agar penyerapan TBS kembali normal dan harganya juga membaik.

Selain melalui skema Flush Out, Kemendag saat ini juga tengah menggencarkan produk MinyaKita, di mana diharapkan dari produksi minyak goreng kemasan tersebut akan berimbas pada normalnya penyerapan TBS petani.

Mendag Zulhas meninjau tandan buah segar kelapa sawit di pabrik pengolahan kelapa sawit di Lampung, Sabtu (9/7/2022). Foto: Kementerian Perdagangan

"Jadi sekarang tidak ada kendala apa pun, tidak ada halangan apa pun untuk ekspor CPO. Kita harap kalau ekspor CPO sudah cepat, pabrik kelapa sawit itu kan tangkinya kosong. Kalau tangki kosong dia beli lagi TBS," jelas dia.

Adapun Zulhas mengatakan bahwa pihaknya sudah meminta agar produsen kelapa sawit membeli TBS petani dengan harga paling murah Rp 1.600 per kg. Selain itu, produsen juga dikenakan skema Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 20 persen untuk menjadi syarat mendapatkan izin ekspor.

Dalam mekanisme DMO tersebut, produsen dapat memproduksi berupa minyak goreng curah maupun minyak goreng kemasan MinyaKita. “Di pasar curah terus (didistribusi), yang jauh-jauh bisa pakai MinyaKita. Tetap harga paling mahal Rp 14.000,” pungkasnya.