Menperin: RI Produksi Mobil 960 Ribu per Oktober 2025, 45 Persen Diekspor
2 Desember 2025 14:32 WIB
·
waktu baca 3 menit
Menperin: RI Produksi Mobil 960 Ribu per Oktober 2025, 45 Persen Diekspor
Sementara produksi kendaraan bermotor roda dua mencapai 5,89 juta unit.kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut produksi kendaraan bermotor (KBM) roda 4 alias mobil mencapai 960.000 unit sepanjang Januari-Oktober 2025.
ADVERTISEMENT
Agus mengatakan, industri alat angkut mencatat kontribusi sebesar 1,28 persen terhadap PDB pada kuartal III 2025 dan dengan rantai pasok yang cukup luas meliputi produksi kendaraan, karoseri, alat berat, kendaraan khusus, sepeda motor, dan juga komponen.
"Hingga hari ini, industri KBM roda 4 memiliki 39 pabrikan dengan kapasitas produksi 2,39 juta unit per tahun, dan KBM roda 2 dan roda 3 yang memiliki 82 pabrikan dengan total kapasitas produksi 11,2 juta per tahun," jelasnya saat acara Akses Kemitraan IKM dan Industri Besar, Selasa (2/12).
Sementara itu, lanjut Agus, sepanjang Januari-Oktober 2025, produksi KBM roda 2 dan 3 tercatat sebesar 5,89 juta, dengan ekspor kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) sebesar 460.000 unit.
ADVERTISEMENT
"Sementara untuk roda 4 mencapai 960.000 unit dengan ekspor CBU mencapai 430.000 unit, atau hampir 45 persen dari total produksi yang diproduksi tanah air itu terserap di pasar mancanegara," ungkap Agus.
Di sisi lain, Agus mengungkapkan rata-rata kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia masih sangat rendah, yakni 99 kendaraan per 1.000 penduduk, kalah jauh dari negara-negara tetangga.
Dia mencontohkan rata-rata kepemilikan kendaraan di Malaysia mencapai 490 unit per 1.000 penduduk, Thailand 275 unit per 1.000, dan Singapura 211 unit per 1.000 penduduk.
"Kita bisa analisa kenapa angka ini masih rendah, tetapi yang pasti yang kita bisa sepakati artinya industri otomotif masih memiliki peluang yang luar biasa besar untuk duduk di Indonesia," tutur Agus.
ADVERTISEMENT
Agus juga mengungkapkan, industri otomotif tengah menghadapi tantangan tingginya impor komponen. Pada Januari–September 2025, total impor otomotif mencapai USD 8,23 miliar, sementara nilai impor komponen sebesar USD 2,29 miliar.
“Memang terjadi kenaikan [impor] tahun lalu dan tahun ini, hampir 20 persen kenaikan. Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri dalam negeri, khususnya industri kecil menengah,” jelasnya.
Dia menekankan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif perlu didorong untuk memproduksi komponen substitusi impor. Selain meningkatkan nilai tambah manufaktur, langkah tersebut juga penting bagi perekonomian nasional, melihat keberhasilan negara lain seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
"Mereka memberikan kontrak jangka panjang kepada para IKM dan juga berani untuk melakukan transfer teknologi untuk para IKM dan tentu juga melakukan kegiatan pendampingan kualitas secara berkelanjutan," tutur Agus.
ADVERTISEMENT
Kemenperin mencatat pada tahun 2025, Indonesia memiliki 1.412 unit usaha IKM komponen alat angkut yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sentra-sentra industri tersebut memproduksi beragam komponen seperti body dan casis, knalpot, interior dan aksesori, komponen karet dan plastik, komponen modifikasi hingga header radiator.
