Menperin Upayakan Insentif Stimulus Otomotif Berlaku 2026 untuk Tekan Impor

2 Desember 2025 14:03 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menperin Upayakan Insentif Stimulus Otomotif Berlaku 2026 untuk Tekan Impor
Menteri Perindustrian upayakan insentif otomotif berlaku 2026 demi tekan impor komponen dan dorong industri dalam negeri di tengah penurunan penjualan.
kumparanBISNIS
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan masih mengupayakan kebijakan insentif dan stimulus otomotif pada 2026 demi menekan impor komponen kendaraan.
ADVERTISEMENT
Agus mengatakan industri otomotif tengah menghadapi tantangan tingginya impor komponen. Pada Januari–September 2025, total impor otomotif mencapai USD 8,23 miliar, sementara nilai impor komponen sebesar USD 2,29 miliar.
“Memang terjadi kenaikan [impor] tahun lalu dan tahun ini, hampir 20 persen kenaikan. Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri dalam negeri, khususnya industri kecil menengah,” jelasnya saat acara Akses Kemitraan IKM dan Industri Besar, Selasa (2/12).
Ia menekankan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif perlu didorong untuk memproduksi produk substitusi impor. Selain meningkatkan nilai tambah manufaktur, langkah tersebut juga penting bagi perekonomian nasional.
Untuk itu, Agus mengatakan pihaknya terus memperjuangkan agar insentif otomotif yang diusulkan berlaku pada 2026 dapat disetujui. Saat ini pembahasannya masih berjalan.
ADVERTISEMENT
Forward backward linkage-nya besar, penyerapan tenaga kerjanya juga besar. Karena itu, kami tetap mengusulkan insentif atau stimulus untuk sektor otomotif,” tegas Agus.
Agus juga mengungkapkan dirinya sempat berdiskusi dengan salah satu produsen kendaraan bermotor yang mengaku tertekan dan membutuhkan dukungan pemerintah.
“Saya bisik-bisik bilang, bagaimana Pak, berat? Mungkin karena yang nanya menteri, enggak berani jawab berat. Tapi saya tahu muka-muka yang ini sedang galau, ya memang harus galau,” ujarnya.
Ilustrasi fasilitas uji tipe kendaraan. Foto: Istiimewa
Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa saat industri alat angkut tumbuh 1,4 persen, industri kendaraan bermotor justru terkontraksi 10 persen.
Tambahan data dari Gaikindo juga mencatat penjualan mobil wholesales Januari–Oktober 2025 hanya 634.844 unit, turun 10,6 persen dari tahun lalu sebanyak 711.064 unit.
ADVERTISEMENT
“Oleh sebab itu, merupakan tanggung jawab kami. Salah kalau kami tidak perjuangkan. Doakan saja, saya akan terus berjuang agar sektor otomotif bisa kembali baik,” ucap Agus.
Ia menyebut insentif yang dirumuskan pemerintah akan diarahkan untuk menjawab tantangan dari sisi permintaan maupun pasokan.
Di sisi lain, Agus berharap keberhasilan manufaktur otomotif konvensional dapat direplikasi pada kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Ia ingin agar IKM juga terlibat dalam rantai pasok komponen EV.
Namun, ia mengakui tantangan utama pada produksi EV adalah baterai, yang membuat nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) EV masih rendah karena belum sepenuhnya bisa diproduksi di dalam negeri.
“Kalau sebentar lagi Indonesia bisa produksi baterai, nilai TKDN-nya akan jauh lebih tinggi. Apalagi kalau kita bisa melibatkan IKM dalam rantai pasok EV,” ujar Agus.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah menilai kebijakan insentif perlu dikaji ulang agar penempatannya tepat sasaran.
“Pertanyaannya, apakah masih diperlukan insentif jika suatu industri sudah cukup kuat? Kami melihat ruang kebijakan dapat dipertimbangkan untuk sektor-sektor prioritas lain yang membutuhkan dukungan lebih besar,” ucap Haryo.
Hingga kini, pemerintah belum menerima pengajuan resmi terkait insentif otomotif 2026 dari kementerian maupun lembaga teknis. Kemenko Perekonomian tetap membuka ruang diskusi apabila ada usulan baru.