Mentan Syahrul: Produksi CPO Bersertifikat ISPO Capai 22 Juta Ton

3 November 2022 19:50
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Indonesian Price Oil Conference (IPOC) 2022 diselenggarakan pada hari Kamis (3/11/2022).  Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Indonesian Price Oil Conference (IPOC) 2022 diselenggarakan pada hari Kamis (3/11/2022). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
ADVERTISEMENT
Jumlah produksi minyak sawit bersertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO tercatat hampir mencapai 50 persen dari total produksi nasional. Data ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan tata kelola sawit berkelanjutan untuk pencapaian prinsip SDG.
ADVERTISEMENT
Adapun sertifikasi ISPO bersifat mandatori bagi perusahaan dan petani sawit yang mengacu kepada peraturan berlaku. Penerapan ISPO mendukung pencapaian daya saing minyak sawit Indonesia di dunia, memperhatikan isu lingkungan dan mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
"Industri sawit berkontribusi terhadap pencapaian SDG melalui implementasi ISPO sebagai bagian kaidah pembangunan berkelanjutan," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara virtual dalam Indonesian Price Oil Conference (IPOC) 2022, Kamis (3/11).
Luas kebun sawit bersertifikat ISPO terus bertambah sekarang ini mencapai 3,65 juta hektare yang menghasilkan 22 juta ton CPO bersertifikat. Sementara itu, total produksi CPO Indonesia sebanyak 46 juta ton dengan luas perkebunan sawit 16,38 juta hektare.
"Saat ini, jumlah pemegang sertifikat ISPO sebanyak 766 unit bertambah setiap tahunnya. Ini menandakan adanya perkembangan kebun sawit berkelanjutan," katanya.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Syahrul mengatakan, dengan terbitnya regulasi ISPO menjadi cara untuk mencapai perkebunan sawit yang efisien dan efektif. Sertifikasi ISPO akan disempurnakan melalui proses sertifikasi sampai kepada produk hilir agar daya saing semakin meningkat ke depannya, baik di dalam dan luar negeri serta memperkuat daya tawar Indonesia di pasar global minyak nabati dunia.
"Melalui penerapan minyak sawit bersertifikat ISPO, dapat mempermudah akses pasar internasional dan meningkatkan harga CPO bersertifikat. Ini akan meningkatkan insentif bagi pelaku usaha perkebunan," ujarnya.
Syahrul menyebut produk sawit berlabel ISPO akan menjamin produksi tersebut telah memenuhi indikator sawit berkelanjutan di sepanjang rantai pasoknya.
ISPO telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia dan menjadi instrumen dalam mewujudkan perkebunan sawit yang berkelanjutan sejak tahun 2011 melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/3/2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).
ADVERTISEMENT
Selanjutnya pada 2015 peraturan terkait sertifikasi ISPO diperbarui melalui Peraturan Menteri Pertanian nomor 11 tahun 2015 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit.
Pada 2020, ISPO telah disempurnakan melalui Peraturan Presiden nomor 44 tahun 2020 yang secara teknis pelaksanaannya diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian nomor 38 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020