Menteri Edhy: Impor Garam Itu Terpaksa, Bukan Keharusan

5 November 2019 16:26 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo  melakukan audiensi bersama perwakilan Kadin Indonesia di Kementerian Perikanan dan Kelautan, Jakarta.  Foto: Dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan audiensi bersama perwakilan Kadin Indonesia di Kementerian Perikanan dan Kelautan, Jakarta. Foto: Dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan
ADVERTISEMENT
Indonesia hingga saat ini masih rutin mengimpor garam untuk kecukupan industri. Garam impor memang memiliki spesifikasi khusus yang diklaim tidak terlalu banyak diproduksi di Indonesia. Sedangkan garam lokal hanya cukup untuk kebutuhan konsumsi.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebut impor garam yang dilakukan selama ini adalah sebuah keterpaksaan. Sebab, produksi garam lokal belum bisa memenuhi kebutuhan industri.
"Pada akhirnya, impor itu suatu keterpaksaan. Bukan suatu keharusan. Kalau dalam negeri ada, tentunya tidak akan ada serapan (impor)," kata dia usai rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/11).
Salah satu kebutuhan garam industri yang sedikit sekali di produksi oleh petambak adalah yang mengandung Chlor Alkali Plant (CAP). Garam jenis ini biasa digunakan untuk kebutuhan industri manufaktur seperti kimia, farmasi dan kosmetika, pengeboran minyak, hingga aneka pangan dan minuman.
Sebenarnya menurut Edhy, garam jenis ini ada tetapi sedikit sekali diproduksi. Untuk mendorong pengadaan garam jenis tersebut, pemerintah bakal menyiapkan lahan 400 hektare di Nusa Tenggara Timur.
ADVERTISEMENT
"Kalau ini sudah produksi, harusnya garam-garam kita dalam negeri kita bisa (memenuhi kebutuhan). Ada semangat tadi bahwa impor itu dilakukan kalau terpaksa," kata dia.
Petani memanen garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur. Foto: ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Salah satu teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan produksi garam nasional dengan kualitas NaCl yang tinggi adalah dengan geomembran dan program pugarnya. Kata dia, dari 7 ribu lahan yang sudah dilakukan kementerian yang lalu, sudah menghasilkan produksi signifikan. Satu hektare itu menghasilkan hampir 30 persen peningkatan dan kualitas garamnya lebih putih.
"Terus terang kalau dari kebutuhan nasional kemampuan kita untuk melakukan produksi garam masih ya bisa dibilang setengahnya. Nah ini yang harus kita dorong. Ini kita cari cara untuk jalan keluarnya bagaimana para petambak garam penghasilannya baik," jelas Edhy.
ADVERTISEMENT
Dalam rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tadi, Edhy mengatakan dilakukan pemetaan garam nasional untuk tahun depan, termasuk tata alokasinya. Pemetaan dilakukan agar harga garam rakyat tak jatuh seperti sekarang. Jadi harus disesuaikan produksi dalam negeri dan permintaan kuota impor.