Menteri ESDM Pastikan Tarif Listrik Tak Naik Akhir Tahun Ini

16 September 2022 17:19
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pekerja beraktivitas di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet) transmisi Jawa bagian timur dan Bali di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (8/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja beraktivitas di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet) transmisi Jawa bagian timur dan Bali di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (8/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
ADVERTISEMENT
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memastikan pemerintah tidak akan menaikkan kembali tarif dasar listrik (TDL) di kuartal IV atau hingga akhir tahun 2022 ini.
ADVERTISEMENT
Adapun penyesuaian tarif listrik dilakukan setiap tiga bulan sekali atau kuartalan. Kenaikan tarif listrik terakhir terjadi di awal kuartal III 2022 atau 1 Juli 2022, berlaku untuk orang kaya golongan 3.500 VA ke atas dan sektor pemerintah.
"Enggak (tarif listrik naik di kuartal IV 2022)," kata Arifin saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (16/9).

Faktor Penyebab Kenaikan Tarif Listrik

Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menuturkan penyesuaian tarif listrik berdasarkan arahan pemerintah, di mana penyaluran subsidi dan kompensasi harus tepat sasaran di tengah kenaikan Biaya Pokok Produksi (BPP) PLN.
Dia menjelaskan, ada selisih BPP dengan harga jual atau tarif listrik bagi keluarga mampu sebesar Rp 250 per kWh. Sehingga, pemerintah memutuskan realokasi bantuan yang tidak tepat sasaran untuk biayai program lain.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sementara itu, soal kemungkinan ada penyesuaian kembali yang menyebabkan tarif listrik turun, dia berkata itu bisa terjadi ketika faktor yang menyebabkan kenaikan BPP juga turun, seperti harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP).
Menteri ESDM Arifin Tasrif di Kementerian ESDM, Jakarta. Jumat (25/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Arifin Tasrif di Kementerian ESDM, Jakarta. Jumat (25/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
"Tentu saja apabila harga ICP turun jadi USD 45 per barel misalnya, kembali seperti tahun lalu, tentu saja BPP turun. Maka bagi yang tariff adjustment sudah dilepas maka harganya (ikut) berfluktuasi," jelas dia saat konferensi pers di Kantor Pusat PLN, Jumat (1/7).
Dia menjelaskan, kenaikan harga komoditas energi saat ini membuat PLN harus menanggung kenaikan BPP. Pertama, harga batu bara yang normalnya sekitar USD 70-80 per ton, saat ini sudah lebih dari USD 350 per ton.
Lalu harga gas biasanya berkisar USD 8-9 per MMBTU, saat ini sudah melebihi USD 30 per MMBTU, dan harga minyak mentah yang diasumsikan USD 63 per barel tahun ini, sudah di atas USD 110 per barel.
ADVERTISEMENT
"Ada dampak pada kenaikan cost kami yaitu, per dolar per barel dampaknya Rp 500 miliar biaya operasional. Maka, kenaikan USD 40-45 akan berdampak pada Rp 20-23 triliun untuk BPP kami," jelas Darmawan.