Kumparan Logo

Miris, Petani Cuma Untung Rp 1 Juta per Hektar Tanam Kedelai

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Pekerja mengangkat kacang kedelai saat produksi tahu di pabrik tahu Sumber Barokah di Kampung Karya Bhakti RT 04/04, Kelurahan Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/1/2021). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengangkat kacang kedelai saat produksi tahu di pabrik tahu Sumber Barokah di Kampung Karya Bhakti RT 04/04, Kelurahan Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/1/2021). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO

Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan sejumlah penyebab Indonesia masih mengimpor kedelai. Salah satunya produktivitas yang rendah dan biaya produksi yang masih tinggi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi mengatakan, petani hanya akan mampu menanam kedelai seluas 325 ribu hektar (ha) untuk periode April-Juni 2021. Areal lahan ini terdapat di sentra-sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jambi, Banten, hingga Sulawesi Barat.

“Dengan menanam 325 ribu ha, produktivitas 1,5 ton per ha, di bawah potensi Litbang yang bisa 3,5 ton,” ujar Suwandi saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (13/1).

Dia melanjutkan, biaya produksi kedelai juga sangat mahal. Untuk 1 kilogram (kg) kedelai, biaya produksinya Rp 5.000 hingga Rp 6.000. Sementara harga kedelai lokal di pasaran Rp 7.000 per kg.

Kedelai. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Keuntungan petani hanya Rp 1 juta per ha untuk kedelai, jauh lebih rendah dari menanam jagung maupun padi. Rata-rata keuntungan petani bisa mencapai Rp 13 juta per ha untuk menanam jagung atau Rp 5 juta per ha untuk padi.

“Keuntungan nanam kedelai data BPS tahun 2017 itu cuma Rp 1 juta per ha, itu sangat rendah sekali. Jauh di bawah nanam padi dan jagung, sehingga petani lebih memilih yang untungnya lebih tinggi padi jagung dan beberapa tempat memilih tebu," jelasnya.

Selain itu, kedelai juga tidak termasuk dalam komoditas larangan terbatas (lartas), sehingga jumlah impornya tak dibatasi. Aturan bebas bea masuk impor kedelai juga dinilai semakin menekan petani.

kumparan post embed

Suwandi menambahkan, menanam kedelai juga cukup sulit. Tanaman kedelai rawan dengan penyakit dan kerap jadi incaran hama, seperti tikus.

Anggaran untuk mendorong produksi kedelai juga masih rendah. Dalam APBN 2021, anggaran Rp 180 miliar hanya mampu disalurkan untuk 125 ribu ha kedelai.

“Sisanya kami harapkan dari KUR, investor, tambahan atau realokasi anggaran,” tambahnya.