kumparan
28 Agu 2019 19:08 WIB

OJK: AS dan China Perang Dagang, Stabilitas Keuangan RI Tetap Terjaga

Ilustrasi gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Foto: Anggi Dwiky Darmawan/kumparan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jassa keuangan hingga Juli 2019 masih terjaga, meskipun ekonomi global mengalami perlambatan di tengah perang dagang Amerika Serikat dan China.
ADVERTISEMENT
Menurut laporan otoritas keuangan, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan yang positif dan profil risiko lembaga jasa keuangan yang terkendali. Sektor asuransi dan pembiayaan pun mencatatkan kinerja positif.
"OJK menyatakan, sepanjang Januari hingga Juli 2019, asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi menghimpun premi masing-masing sebesar Rp 104,25 triliun dan Rp 58,87 triliun," demikian mengutip keterangan resmi OJK, Rabu (28/8).
Lembaga jasa keuangan dinilai mampu menjaga profil risiko pada level yang terkendali. Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan sedikit turun ke level 2,74 persen (NPF net: 0,53 persen).
Sementara permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing tercatat 314 persen dan 663 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan.
ADVERTISEMENT
OJK menjelaskan, semakin meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikar-China, khususnya pasca-devaluasi Yuan terhadap USD, menjadi sentimen negatif di pasar keuangan.
Di sisi lain, tensi perang dagang AS-China yang semakin meningkat turut pula mendorong meningkatnya volatilitas dan tekanan di pasar keuangan global sepanjang Juli 2019.
Paparan hasil Rapat Dewan Komisioner OJK bulan Juli 2019. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
Sejalan dengan perkembangan global tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Juli 2019 naik tipis sebesar 0,5 persen secara month to month (mtm) dengan investor nonresiden membukukan net sell tipis sebesar Rp 257 miliar.
Sementara itu, penguatan tipis juga terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN), tercermin dari net sell SBN investor nonresiden sebesar Rp 12,6 triliun (month to date/mtd) dan naiknya rata-rata yield SBN sebesar 76,5 bps.
ADVERTISEMENT
OJK memastikan terus memantau dinamika ekonomi global dan memitigasi dampak kinerja sektor jasa keuangan domestik, terutama terkait dengan profil risiko likuiditas dan risiko kredit.
Otoritas juga terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder memitigasi ketidakpastian eksternal yang cukup tinggi, menjaga kontribusi sektor jasa keuangan dalam pembangunan, dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan