Bisnis
·
17 Oktober 2020 13:44

Pandemi Jadi Momentum untuk Tingkatkan Kesadaran soal Pentingnya Investasi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pandemi Jadi Momentum untuk Tingkatkan Kesadaran soal Pentingnya Investasi (73827)
Ilustrasi investasi. Foto: Pixabay
Pemerintah terus berupaya mendorong kesadaran masyarakat untuk investasi. Sebab selama ini masyarakat Indonesia cenderung lebih mengenal menabung ketimbang investasi.
ADVERTISEMENT
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, masyarakat bisa mulai belajar investasi dari situasi pandemi saat ini. Banyak masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi di masa krisis karena tidak menyiapkan investasi jauh-jauh hari.
“Dalam masa pandemi seperti ini kesadaran kita untuk investasi harusnya bertambah di sini. Kita ingin menekankan bahwa investasi adalah hal yang sangat penting dan harus dimulai sedini mungkin,” ungkap Luky dalam Webinar Giatkan Literasi Investasi Bangkitkan Ekonomi Negeri, Sabtu (17/10).
Menurut Luky, kondisi pandemi ini diharapkan menjadi pembelajaran bahwa situasi sulit dan tidak terencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Sehingga setiap orang membutuhkan investasi agar ketika krisis datang, setiap individu atau setiap keluarga sudah punya bekal finansial yang matang.
Pandemi Jadi Momentum untuk Tingkatkan Kesadaran soal Pentingnya Investasi (73828)
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Untuk itu Luky mengatakan, saat ini pemerintah terus mencoba untuk membangun tatanan masyarakat yang tidak hanya berorientasi menabung tapi juga berorientasi investasi. Sebab menurut Luky, menabung dan berinvestasi merupakan dua hal berbeda. Investasi membutuhkan attitude atau sikap yang lebih dewasa.
ADVERTISEMENT
“Kita bisa melihat investasi itu attitude. All about attitude. Investasi itu harus dilakukan sejak awal, dilakukan sejak dini. Harus diniatkan. Itu attitude,” ujarnya.
Selain itu dalam berinvestasi ada banyak faktor yang harus dicermati dan dipertimbangkan. Salah satunya yaitu return dan risk. Luky mengimbau agar setiap individu yang baru belajar berinvestasi agar tidak mudah silau dengan iming-iming return. Namun setiap investor juga harus paham dengan risiko yang ada.
Untuk itu menurut Luky, jika masyarakat ingin berinvestasi tapi dengan risiko minim, maka dapat memilih instrumen investasi yang diterbitkan negara yaitu Surat Berharga Negara (SBN). Adapun pemerintah telah mengeluarkan SBN yang dikhususkan untuk investor individu sehingga nilai investasinya tidak terlalu besar yaitu SBN Ritel.
ADVERTISEMENT
“Kalau kita investasi, SBN ritel ini pasti menghasilkan return, aman dan inilah bentuk partisipasi masyarakat untuk ikut membiayai APBN. Termasuk menangani pandemi," tutupnya.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white