kumparan
20 Okt 2018 17:03 WIB

Pariwisata Pegunungan Arfak Butuh Perhatian, Bukan Hanya Cuitan

Pegunungan Arfak di Papua yang Terlupakan. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Sebentar lagi, Papua Barat tak hanya punya Raja Ampat yang tampil eksotis sebagai ekowisata baharinya. Namun, ekowisata andalan untuk wilayah pegunungan akan segera disematkan pada Pegunungan Arfak atau yang akrab disapa Pegaf. Hal itulah yang kini tengah gencar didengungkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Arfak Papua Barat.
ADVERTISEMENT
Bukan sekadar pariwisata biasa, konsep ekowisata yang diimpikan pada Pegaf ditujukan sebagai upaya pengembangan pariwisata yang tetap menjaga keseimbangan alam serta manusia di dalamnya.
Bupati Pegunungan Arfak, Yosias Saroi, mengatakan Pegaf memiliki keindahan yang luar biasa menakjubkan. Bukan hanya kawasan pegunungan berkabut yang diapit dua danau yaitu Danau Perempuan (Anggi Gida) dan Danau Laki-laki (Anggi Giji) yang bisa dinikmati dari bukit-bukit seperti Bukit Kombrey dan Bukit Tombrok, namun juga dikatakan masih memiliki banyak potensi lain.
"Ada gua yang terpanjang, ada air terjun besar keluar danau namanya Nindaw, terus yang satunya Sesirang. Terus ada bunga-bunga endemik tidak ada di daerah lain hanya di Pegaf, bunga anggrek hitam. Terus ada burung endemik juga, burung pintar, cendrawasih yang menari-nari di tanah. Terus kita punya flora dan fauna endemik yang tidak ada di daerah lain," katanya ketika dihubungi kumparan, Sabtu (20/10).
ADVERTISEMENT
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat Yosak Wabiya bahkan menyebut, suasana berkabut juga turut memperindah kawasan pegunungan di kawasan pemekaran Manokwari pada tahun 2014 lalu itu.
"Daerah dingin kalau datang musim dingin sampai 6 derajat celsius, kalau naik suhu 20 derajat. Di tengah-tengahnya bisa 10-15 derajat. Pegaf daerahnya berkabut dan berawan. Kabut jadi satu keindahan tersendiri," katanya.
Kondisi jalan dan masyarakat pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul ur Azizah/kumparan)
Namun, segala keindahan yang tampak pada Pegaf seolah berbanding terbalik dengan kondisi infrastruktur yang ada di sana. Ketika kumparan, Selasa (9/10) berkunjung ke Arfak, mendapati jalanan menuju kawasan Pegaf dari Manokwari yang berjarak tak kurang 100 kilometer memang masih terbilang buruk.
Tak hanya itu, waktu tempuh yang diperlukan bisa pun tidak efisein yaitu mencapai 5 jam. Jangan membayangkan jalanan mulus, karena sepanjang jalan ialah berbatu dan licin berlumpur, tidak proporsional karena terlalu sempit, hingga harus menyeberangi tak kurang empat sungai tanpa jembatan.
ADVERTISEMENT
Selain akses jalan yang sulit, katakanlah masalah infrastruktur lainnya masih jadi belenggu. Seperti kesediaan air bersih dan listrik yang masih minim. Belum lagi, kualitas sumber daya manusia dan kesehatan yang tak kalah memprihatinkan.
Butuh Perhatian Segera
Angan hanya tinggal angan jika tanpa tindakan. Begitulah kiranya yang bisa menggambarkan semangat membara harapan Pegaf jadi andalan ekowisata namun jika tak segera diperhatikan.
Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kementerian Pariwisata, I Gede Pitana, mengingatkan agar pemerintah setempat segera mengambil langkah strategis untuk pembangunan kawasan wisata Pegaf.
"Yang awal harus disiapkan adalah infrastruktur dasar. Yaitu paling tidak ada jalan, listrik, air dan fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk menginap di sana. Simpel kan. Pada saat yang bersamaan kita harus mempromosikan daerah itu," katanya.
ADVERTISEMENT
Tak kalah penting, Gede juga menegaskan agar pemerintah benar-benar memahami apa yang menjadi visi misi pembangunan Pegaf sebagai kawasan ekowisata.
"Kalau misalnya benar ecotourism yang akan dikembangkan maka pertanyaannya kita tak perlu bangun hotel besar. Kita perlu bangunnya homestay yang kecil skala masyarakat. Kemudian tak perlu bangun tol. Yang diperlukan jalan-jalan tracking yang naik ke puncak gunung," imbuhnya.
Lebih lanjut, Ia menyampaikan kriteria suatu wilayah bisa dikembangkan sebagai pariwisata di antaranya meliputi adanya atraksi atau potensi wisata yang menjadi daya tarik. Selanjutnya, aksesibilitas yang mumpuni untuk menjangkau lokasi setidaknya seperti jalan, listrik dan air.
Kondisi jalan dan masyarakat pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul ur Azizah/kumparan)
"Kemudian yang ketiga itu adalah adanya ameniti yang dikembangkan, sudah adakah home stay minimal, hotel. Yang keempat yang sangat penting bagi kami adalah adanya komitmen daerah," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Tanpa perhatian pada semua hal itu, menurut Gede pembangunan Pegaf sebagai ekowisata bisa jadi hanya bakal jadi cuitan belaka.
"Walaupun misalnya semua bagus tapi daerah tidak komitmen ya susahlah kita, karena bagaimana juga bergantung pada pimpinan daerah. Bentuk komitmennya apa? Satu memang menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan atau prioritas. Kedua memang, daerah itu menganggarkan jangan hanya ngomong aja," pungkas Gede.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan