kumparan
28 Agu 2018 16:26 WIB

Pasca-Holding, Jaringan Pipa Gas Pertamina Terpanjang di Asia Tenggara

Kilang minyak di Cilacap (Foto: Dok. BUMN)
PT Pertamina memiliki bisnis gas terintegrasi dengan masuknya PGN dan Pertagas dalam satu perusahaan bersama Pertamina Group setelah holding migas resmi terbentuk.
ADVERTISEMENT
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina, Basuki Trikora Putra, mengatakan dengan berdirinya holding migas, Pertamina pun memiliki infrastruktur gas yang terintegrasi dari PT Pertagas dan PGN.
"Dengan holding ini, jaringan pipa kami akan mencapai lebih dari 9.600 kilometer, sebagai pipa gas terpanjang di Asia Tenggara," kata Basuki dalam sambutannya pada Gathering Indonesian Gas Society di Jakarta, Selasa (28/8).
Pria yang akrab disapa Tiko ini menjelaskan, melalui integrasi dalam Pertamina Group, perusahaan akan melakukan beberapa langkah strategis yakni meningkatkan pasokan gas domestik, meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan distribusi gas, mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang ada.
Kemudian, juga membangun di area baru serta meningkatkan kapasitas untuk berinvestasi.
Tiko memaparkan beberapa hal yang akan dicapai yakni potensi pertumbuhan bisnis gas sebesar 7-9 persen selama lima tahun ke depan. Volume transmisi gabungan sebesar 2,627 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) di seluruh jaringan PGN dan Pertagas.
Jargas PGN di Cirebon (Foto: Dok. PGN)
Dengan potensi yang dimiliki, Pertamina terus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan di bisnis gas melalui berbagai forum.
ADVERTISEMENT
Salah satunya melalui forum tahunan Indonesian Gas Society (IGS). Forum ini bertujuan mengevaluasi strategi, masalah, tantangan, dan peluang bisnis gas di Indonesia.
Pertamina menyadari tantangan utama bisnis gas saat ini adalah permintaan gas di dalam negeri yang terus meningkat. Pertamina mengupayakan mata rantai gas yang efisien karena kondisi pasokan yang terkonsentrasi di wilayah timur sementara kebutuhan lebih terpusat di wilayah barat.
Pada pertemuan regulator dan para pelaku bisnis gas 2018 yang mengangkat "Indonesia Oil & Gas Holding Company: Challenges & Opportunities" ini, Tiko juga menyampaikan tantangan lain yang dihadapi dalam pemenuhan energi gas di Indonesia yakni investasi.
Untuk memenuhi permintaan dan mendorong peningkatan penggunaan gas, infrastruktur gas Indonesia membutuhkan pengembangan substansial. Dengan karakter negara kepulauan, biaya pembangunan infrastruktur gas sangat signifikan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan