kumparan
Bisnis22 Mei 2020 7:14

Pekan Singkat Perdagangan Bursa, IHSG Naik Tipis 0,85 Persen

Konten Redaksi kumparan
pergerakan saham
Investor melihat layar monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Sepekan perdagangan pasar saham yang singkat ini, yaitu pada 18 hingga 20 Mei 2020, Pasar Modal Indonesia bergerak dengan variasi data kendati masih berada di zona positif.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini ditutup pada level 4.545,95 atau meningkat 0,85 persen ketimbang perdagangan pada minggu yang lalu yang berada pada level 4.507,60.
Adapun kapitalisasi pasar bursa meningkat 0,85 persen menjadi sebesar Rp 5.257,032 triliun dari Rp 5.212,719 triliun selama sepekan sebelumnya. Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan 2,91 persen atau sebesar 513.937 ribu kali transaksi dibandingkan pekan lalu sebesar 529.395 ribu kali transaksi.
Bursa Efek Indonesia mencatat kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian sebesar 189,24 persen sebesar Rp 18.514 triliun dibandingkan pekan lalu yang tercatat Rp 6.401 triliun.
Kemudian sepanjang pekan ini juga terjadi peningkatan pada rata-rata volume transaksi harian yang tercatat sebanyak 14.914 miliar unit saham. Angka ini naik sebesar 150,61 persen dibandingkan rata-rata volume transaksi harian pada pekan lalu yang tercatat sebesar 5,951 miliar unit saham.
pergerakan saham
Pekerja melintas layar monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Kenaikan tajam tersebut dipicu oleh adanya transaksi Bangkok Bank yang telah melakukan akuisisi saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan harga Rp 1.347 per saham dan total nilai mencapai Rp 33,3 triliun.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 16,535 triliun pada Rabu (20/5). Sedangkan sejak awal tahun investor asing juga mencatatkan nilai jual bersih asing tercatat sebesar Rp 11,129 triliun.
Chief Economist & Investment Strategist_ PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mengatakan, dibandingkan dengan negara-negara tetangga, data terkini menunjukkan outflow dari pasar saham Indonesia relatif lebih terkendali.
“Memang, valuasi saham tak lagi semurah Maret lalu, saat IHSG sedang ambruk-ambruknya. Buat Anda investor yang berprofil agresif, tentunya tak akan menunggu hingga valuasi kembali mahal untuk perlahan masuk ke saham kan?,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima kumparan, Jumat (22/5). Kondisi ini menurutnya didukung oleh struktur ekonomi Indonesia yang lebih berorientasi pada konsumsi domestik.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan