kumparan
10 November 2018 10:25

Pembangkit Listrik CPO Pertama Indonesia Beroperasi di 2019

Pekerja saat menampung minyak kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / Sia KAMBOU)
Dalam rangka mengurangi emisi gas dan ketergantungan pada energi fosil, pemerintah mulai mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO).
ADVERTISEMENT
Pembangkit listrik berbahan bakar CPO (PLTBn CPO) pertama Indonesia mulai dibangun pada 2016 di Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung dengan total investasi USD 6,4 juta atau setara dengan Rp 96 miliar (kurs Rp 15.000).
PLTBn CPO dengan kapasitas 2x2,8 Megawatt (MW) itu akan mulai beroperasi pada 2019. Harga listriknya tidak akan lebih dari USD 14,1 sen atau Rp 1.887 per kWh.
"Pembangkit ini dibangun pemerintah pusat dengan dana APBN. Sesuai Kepmen tentang BPP (Biaya Pokok Penyediaan) tahun 2017, BPP Belitung USD 14,1 sen per kWh atau Rp 1.887 per kWh," kata Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana, kepada kumparan, Sabtu (10/11).
Pekerja membawa kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / Adek Berry)
Rencananya PLTBn CPO dioperasikan sebagai 'peaker' selama 5 jam dalam sehari. Artinya, PLTBn CPO dioperasikan untuk memperkuat pasokan listrik saat beban puncak selama 5 jam.
ADVERTISEMENT
Total konsumsi bahan bakar PLTBn CPO selama setahun diperkirakan sebanyak 1,407 juta liter CPO dan 843 ribu liter High Speed Diesel (HSD/Solar).
Pembangkit ini akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yaitu PT Belitong Mandiri. Saat ini PLTBn CPO sudah memasukti tahap commisioning alias uji coba operasi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan