kumparan
26 Mar 2019 20:42 WIB

Pembangunan LRT Jabodebek Capai 51,41 Persen per 15 Maret

Stasiun LRT Kampung Rambutan yang masih dalam proses pembangunan, Jakarta Timur, Kamis (14/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyampaikan progres pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek mencapai 59,41 persen hingga 15 Maret 2019. Proyek ini telah dimulai sejak September 2015 dan ditargetkan rampung pada tahun 2021.
ADVERTISEMENT
"Dilaporkan pula laporan progres fisik (proyek LRT Jabodebek) per Maret 2019 sebesar 59,41 persen," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri saat paparan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (26/3).
Adapun lebih rinci Zulfikri menyampaikan antara lain progres pembangunan lintas pelayanan I Cawang-Cibubur 79,47 persen sepanjang 14,89 kilometer (km), lalu lintas II Cawang-Dukuh Atas 47,55 persen sepanjang 11,05 km, dan Cawang-Bekasi Timur 67,70 persen sepanjang 18,49 km.
"Dan depo yang sangat rendah yang menjadi masalah kami adalah masih sebesar 9,8 persen terkait kondisi lahan," katanya.
Suasana pembangunan jalur LRT (Light Rail Transit) Jabodebek di Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Zulfikri menambahkan, Kemenhub memiliki kewajiban untuk menyediakan lahan dalam proyek LRT ini. Sementara itu, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai kontraktor untuk membangun sarana proyek tersebut.
ADVERTISEMENT
Masih berdasarkan data yang dipaparkan, progres pengadaan lahan dalam proyek ini terbagi menjadi 5 kawasan. Adapaun progres pengadaan lahan di Jakarta Timur telah mencapai 75 persen, Jakarta Selatan mencapai 79 persen, Depok mencapai 67 persen, Kota Bekasi mencapai 38 persen, dan Kabupaten Bekasi mencapai 21,5 persen.
"Data bidang Kabupaten Bekasi kebutuhan 191 dan yang telah bebas 41 dengan sisa 150 lahan," katanya.
Sebagai gambaran, proyek transportasi massal ini menelan investasi Rp 29,9 triliun. Biaya tersebut terbagi menjadi Rp 25,7 triliun untuk pembangunan prasarana serta Rp 4,2 triliun untuk pembangunan 1 depo dan 17 stasiun. Adapun pendanaan proyek ini secara rinci yaitu melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 9 triliun dan pinjaman bank Rp 20,9 triliun.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan