Bisnis
ยท
13 Januari 2021 19:51

Pemerintah Kurangi Pembangunan 15,5 GW Pembangkit Listrik hingga 2030

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pemerintah Kurangi Pembangunan 15,5 GW Pembangkit Listrik hingga 2030 (298114)
PLTU Indramayu. Foto: Dok. PLN
Turunnya konsumsi listrik di masa pandemi membuat pasokan berlebih di dalam negeri. Pemerintah pun berencana mengeluarkan 15,5 gigawatt proyek pembangkit listrik baru dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.
ADVERTISEMENT
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan saat ini pihaknya masih mengkaji RUPTL 2021-2030 yang sudah disusun dan diajukan Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini sejak Desember 2020.
Dirinya akan meminta persetujuan Menteri ESDM Arifin Tasrif atas pengurangan kapasitas 15,5 GW pembangkit listrik yang sebelumnya tercatat dalam RUPTL 2019-2028. Adapun total RUPTL mencapai 800 lembar berisi proyek pembangunan penyediaan tenaga listrik selama 10 tahun ke depan.
"Kita kurangi 15,5 GW dari RUPTL yang ada pada periode lalu. Tentu saja ada pengurangan beberapa dari proyek 35 GW untuk di-take out dari Perpresnya," kata Rida dalam konferensi pers Paparan Kinerja Ketenagalistrikan 2020, Rabu (13/1).
Pemerintah Kurangi Pembangunan 15,5 GW Pembangkit Listrik hingga 2030 (298115)
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
Pemerintah harus melakukan negosiasi jadwal operasi pembangkit akibat wabah corona. Kebanyakan negosiasi ini dilakukan kepada proyek-proyek pembangkit listrik PLN. Sedangkan pembangkit listrik swasta (IPP) rata-rata tidak mau dimundurkan jadwal operasinya.
ADVERTISEMENT
Sepanjang tahun lalu, penambahan pembangkit tercatat hanya 2,866 MW atau 55 persen dari target. Begitupun dengan penambahan transmisi hanya 2.648 kms atau 59 persen dari target dan penambahan gardu induk hanya 7.870 MVA atau 55 persen dari target akibat pengerjaan terganjal wabah corona.
Kementerian ESDM juga mengubah pertumbuhan listrik dari sebelumnya 6,4 persen menjadi 4,9 persen dalam RUPTL 2021-2028. Keputusan ini diambil setelah melihat perkembangan ekonomi dan konsumsi listrik nasional yang landai akibat wabah corona.
"Ambisi tinggi boleh, tapi kita harus realistis juga. Jadi, dalam 10 tahun ke depan, rata-rata pertumbuhan listrik asumsi yang kita buat 4.9 persen. RUPTL sebelumnya didesain dengan tinggi, 6,4 persen," ucap Rida.