Bisnis
·
2 Februari 2021 13:54

Perajin Tempe Soal Swasembada Kedelai: Realisasi Nol!

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Perajin Tempe Soal Swasembada Kedelai: Realisasi Nol! (24510)
Perajin tempe memasukkan kedelai ke dalam cetakan tempe di tempat produksi tempe di kawasan Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/1/2021). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTO
Perajin tempe mengaku kecewa dengan program tanam kedelai yang menurut mereka telah digagas pemerintah sejak tahun 2006. Mereka kecewa lantaran tak ada hasil alias nihil dari program tanam kedelai.
ADVERTISEMENT
"Dari 2006 program tanam kedelai lokal, tapi realisasi nol," kata Ketua Primkopti DKI Jakarta Styaryo kepada kumparan, Selasa (2/2).
Styaryo mengatakan sejauh ini hasil program tanam kedelai hanya berbentuk laporan formal. Berdasarkan catatannya, saat ini hanya 10 persen kedelai lokal yang diserap industri tahu dan tempe.
Menurut dia, Presiden Jokowi pada periode pertama kepemimpinannya, juga menjanjikan swasembada pangan, termasuk kedelai. Namun, hingga kini nyatanya Indonesia masih bergantung pada kedelai impor.
Styaryo mengatakan, kejadian aksi mogok produksi tahu tempe pada awal tahun ini membuat Kementerian Pertanian terdorong untuk merumuskan program tanam kedelai selama 100 hari.
Perajin Tempe Soal Swasembada Kedelai: Realisasi Nol! (24511)
Pekerja mengangkat kacang kedelai saat produksi tahu di pabrik tahu Sumber Barokah di Kampung Karya Bhakti RT 04/04, Kelurahan Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/1/2021). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO
Program ini diharapkan mampu menekan impor kedelai. Dia menuturkan, kedelai lokal nantinya bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuat tahu.
ADVERTISEMENT
"Kalau tempe tetap (harus) pakai kedelai impor," katanya.
Kenaikan harga kedelai impor ini membuat petani kedelai lokal lebih kompetitif. Pasalnya selama ada kedelai impor dengan harga lebih rendah, membuat kedelai lokal tak dilirik. Selain itu para petani enggan menanam kedelai.
"Ada hikmah kalau harga dunia diangkat kalau petani produksi Rp 7 ribu- Rp 8 ribu tetapi kalau drop lagi males juga petani menanam. Sudah mendunia harga ini kecil kemungkinan akan jatuh ke 7000," ujarnya.