Bisnis2 November 2018 18:54

Perang Dagang di Balik Kampanye Negatif untuk Minyak Sawit

Konten Redaksi kumparan
Perang Dagang di Balik Kampanye Negatif untuk Minyak Sawit (151921)
Pekerja memuat kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / MOHD RASFAN)
Kampanye negatif dan reputasi buruk sering ditujukan kepada industri kelapa sawit. Uni Eropa termasuk negara yang gencar menyuarakan anti minyak sawit. Adanya fenomena kampanye negatif ini pun menarik perhatian peneliti dari John Cabot University, Roma, Pietro Paganini. Dalam 14th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2018 di Bali, Pietro mengatakan banyak produk makanan di negara asalnya yang membubuhkan label “free from palm oil”. Untuk itu dirinya pun melakukan penelitian terkait dampak dari pelabelan tersebut.
ADVERTISEMENT
Pietro mengatakan bahwa saat ini masyarakat Eropa ketakutan mengonsumsi minyak kelapa sawit karena selalu dicitrakan sebagai kandungan yang berbahaya. Sehingga, Pietro berhipotesis kampanye hitam tersebut disulut karena adanya reputasi negatif sawit yang terbentuk karena kekuatan dari pelabelan. Seperti diketahui, pelabelan berfungsi sebagai alat pemasaran dan periklanan yang berhubungan dengan perilaku manusia serta tren yang sedang berlaku.
“Bicara mengenai minyak kelapa sawit, maka akan berbicara mengenai perang iklan, promosi dan pangsa pasar,” ungkap Pietro dalam IPOC 2018 di Bali International Convention Center, Jumat (2/11).
Menurut Pietro, jika terdapat label “free from”, konsumen biasanya akan merasa lega dan akan membeli produk tersebut. Pietro menjelaskan saat ini pasar biskuit dan makanan manis lainnya di Italia serta negara EU berada pada kondisi yang matang, terfragmentasi, dan sangat agresif. Karena persaingan yang sengit tersebut maka terjadi perang antar produsen untuk memperebutkan konsumen. Tak pelak perebutan pangsa pasar ini membutuhkan adanya alat pemasaran baru yang lebih kuat.
Perang Dagang di Balik Kampanye Negatif untuk Minyak Sawit (151922)
Lahan kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / Januar)
ADVERTISEMENT
Selain itu, adanya perang iklan melawan kelapa sawit ini banyak disebabkan oleh anggapan bahwa minyak kelapa sawit tidak berkelanjutan dari sisi lingkungan hidup, serta secara sosial juga berbahaya terutama dari sisi ketenagakerjaan atau buruh.
“NGOs memiliki peran yang sangat signifikan dalam kampanye ini. Sebagai bukti, antara 2016 hingga awal 2018 terdapat perang yang sangat besar melawan minyak kelapa sawit,” ujarnya.
Banyak berkembang argumen yang mengatakan bahwa minyak kelapa sawit berbahaya karena memiliki kandungan lemak yang tinggi, banyak terkontaminasi, dan sangat karsinogenik. Menurutnya, argumen-argumen tersebut seringkali dibuat meskipun secara ilmiah belum terbukti.
Kampanye tersebut, menurutnya, menyebabkan terjadinya penurunan impor minyak kelapa sawit untuk makanan sebesar 18 persen, penurunan impor dari minyak kelapa sawit Indonesia sebesar 70 persen untuk produk makanan dan 33 persen untuk produk nonmakanan. Di sisi lain terdapat kenaikan penjualan sebesar 12,9 persen terhadap barang yang berlabel “free from palm oil” pada 2017 dan 13 persen pada 2016.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Pietro menyangsikan produk berlabel “free from palm oil” lebih baik daripada kelapa sawit. Hal tersebut menurutnya dapat dilihat dari tingkat kandungan lemak jenuh yang ada di dalam produk. Di EU banyak perusahaan yang menyatakan bahwa produk mereka baik bagi kesehatan karena memiliki kandungan lemak jenuh yang rendah. Sedangkan, hasil temuan riset yang ia lakukan menunjukkan bahwa 90 persen tidak ada pengurangan kandungan lemak jenuh yang signifikan antara produk yang berlabel “free from palm oil” dengan produk yang mengandung minyak kelapa sawit.
“Produk yang berlabel “free from palm oil” ternyata belum tentu memiliki kandungan lemak jenuh yang rendah, sehingga perusahaan-perusahaan ini ternyata tidak sepenuhnya bebas dari lemak jenuh,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Artinya, ada informasi yang menyesatkan bagi konsumen. Temuan lain menyatakan, perusahaan-perusahaan di EU pada awalnya mengaku bahwa perang terhadap minyak kelapa sawit ini dilakukan dengan alasan kesehatan. Namun, alasan tersebut lantas berganti menjadi untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Ternyata, alasan tersebut menurut Pietro tidak terbukti. Menurutnya, berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan (sustainability book report), perusahaan-perusahaan tersebut mengganti minyak kelapa sawit dengan minyak bunga matahari. “
Sedangkan minyak kelapa sawit yang mereka gunakan 100 persen lebih sustainable dibandingkan minyak bunga matahari yang hanya memiliki tingkat keberlanjutan sebesar 28 persen,” jelasnya.
Dari penelitian tersebut Pietro menyimpulkan bahwa penghalang kemajuan industri kelapa sawit sebenarnya adalah perang iklan.
“Dalam perang iklan, perusahaan itu harus bisa melihat siapa musuh mereka. Yang jelas, musuhnya bukanlah konsumen, karena konsumen sebenarnya menjadi korban,” tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white