kumparan
Bisnis19 Januari 2020 14:26

Perang Dagang Hajar Ekonomi China, Terburuk dalam 29 Tahun

Konten Redaksi kumparan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, KTT G20
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bertemu dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) pada pertemuan bilateral di KTT G20 di Osaka, Jepang. Foto: REUTERS / Kevin Lamarque
Perang dagang berdampak buruk terhadap perekonomian China sepanjang 2019. Penurunan sebetulnya telah terjadi sejak 2018. Menurut data Badan Pusat Statistik China, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tahun 2019 tercatat terendah dalam 29 tahun. Ekonomi China tumbuh 6,1 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang sebesar 6,6 persen.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Minggu (19/1), memburuknya kinerja perekonomian China tahun 2019 akibat perang dagang yang berlangsung dalam kurun 2018-2019. Ekonomi China terbebani akibat pengenaan tarif dari pemerintahan Amerika Serikat (AS).
Meski terpuruk, target pertumbuhan ekonomi China masih berada di dalam prediksi pemerintah, yakni dalam rentang 6-6,5 persen.
Shanghai, China
Kota Shanghai di Malam Hari Foto: Pixabay
Beberapa indikator penentu pertumbuhan ekonomi memang tumbuh di atas ekspektasi analis, namun tetap menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Output industri manufaktur China tumbuh 5,7 persen di 2019, atau melemah dibandingkan 2018 yang sebesar 6,2 persen.
Kemudian pertumbuhan belanja konsumen juga mengalami penurunan yakni dari 9 persen di 2018 menjadi 8 persen di 2019. Sedangkan investasi tumbuh 5,4 persen, membaik dibandingkan kondisi November (year-on-year) yang tumbuh 5,2 persen. Artinya sebagai penolong adalah belanja pemerintah (government spending) hingga insentif moneter dan fiskal (pemotongan pajak).
ADVERTISEMENT
Pengambil kebijakan di Beijing memang memiliki keyakinan ekonomi China bisa tetap terjaga di posisi 6 persen, tetapi bakal sangat menantang di 2020. Meski ada kesepakatan penyelesaian perang dagang Fase I dengan Presiden Donald Trump, China harus mengambil keputusan berat untuk mengimpor lebih banyak produk-produk dari AS, di saat bersamaan persoalan dasar di perang dagang belum tuntas.
"Fase I hanya kesepakatan sementara antara China dan AS. Faktanya, pada kesepakatan lanjutan, AS masih mengenakan tarif terhadap produk asal China, meskipun kedua negara sedang dalam proses menuju kesepakatan Fase II," kata Kepala Ekonom Asia-Pacific dari Netixis, Alicia Garcia Herrero dikutip SCMP.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan