Perbankan RI Siapkan Strategi Hadapi Tahun Politik dan Era Suku Bunga Tinggi

30 November 2023 7:47 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), Taswin Zakaria di Gedung Senayan 3, Selasa (23/5/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), Taswin Zakaria di Gedung Senayan 3, Selasa (23/5/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
ADVERTISEMENT
Sejumlah perbankan di Tanah Air mulai menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi tahun politik dan era suku bunga tinggi.
ADVERTISEMENT
Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria menilai kinerja bisnis perbankan akan tetap moncer di tahun politik. Jika, keadaan pemilu lancar.
"Kita berharap tetap bisa lancar dan kalau pemilunya nanti lancar saya pikir bisnis tidak akan terlalu terganggu," kata Taswin kepada awak media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Rabu (29/11).
Taswin melihat fenomena wait and see menjelang pemilihan presiden (Pilpres) adalah hal yang wajar. Apalagi jika dilihat dari sisi investasi dan kredit.
"Tapi biar bagaimanapun korporasi perlu bergerak tetap, jadi permintaan modal kerja dan mungkin investasi sedikit masih ada," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Bank Syariah Indonesia (BSI), Bob Tyasika Ananta menargetkan pembiayaan di tahun politik berada di kisaran 16 persen hingga 17 persen
ADVERTISEMENT
"Tadi juga sudah disampaikan oleh Pak Gubernur BI kisarannya sekitar 10 persen hingga 11 persen. Kalau di syariah, BSI itu biasanya sekitar 1,5 kali jadi sekitaran 16 persen sampai 17 persen," ungkapnya.
Bob menjelaskan, salah satu pendorong moncernya kredit BSI selama tahun politik karena hampir 50 persen portfolio komposisi kredit BSI hampir 50 persen consumer dan retail.
Lebih lanjut, Bob membeberkan strategi BSI dalam menghadapi tahun politik di era suku bunga tinggi. Salah satunya melalui Tabungan Wadiah.
"Di BSI sedikit syariah agak unik ada istilahnya Tabungan Wadiah yang cuman dititip enggak ada return-nya. Porsi itu kita ada sekitar 16 persen sampai 18 persen. Nah itu kemudian COF (cost of fund) jadi 0 tapi on top of itu berapa funding lainnya ya seperti funding di pasar dan kemudian kita ada beberapa strategi lah," tandasnya.
ADVERTISEMENT