kumparan
9 Jun 2018 15:04 WIB

Pertimbangan ESDM Minta Tambahan Subsidi Listrik Tahun Depan Rp 5 T

Penyambungan listrik serentak (Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2019 berkisar antara Rp 53,96-58,89 triliun, naik sekitar Rp 5 triliun dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 52,6 triliun.
ADVERTISEMENT
Menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Sommeng, salah satu alasan anggaran subsidi naik selama 3 tahun terakhir karena terdapat rumah tangga baru penikmat listrik yang disubsidi.
“Karena rumah tangga baru itu, pemakai listrik baru, mayoritas 900 VA (bersubsidi). Tidak mungkin abis menikah langsung pakai ribuan VA,” ucapnya kepada kumparan, Sabtu (9/6).
Ilustrasi jaringan transmisi listrik (Foto: Dok. PLN)
Dia merinci pada tahun 2018, ada 766 ribu rumah tangga baru penikmat listrik. Sementara pada 2018 diproyeksikan terdapat 770 ribu rumah tangga baru. Namun, Andy tak menyalahkan adanya rumah tangga pengguna listrik baru.
“Ke depan tidak mungkin dong mereka terus-terusan pakai 900 VA. Kalau ekonominya naik, pasti naik penggunaan listrik. Listrik PLN jadi ada yang menyerap kan,” katanya.
ADVERTISEMENT
Selain hal tersebut, dia mengakui bahwa rencana kenaikan subsidi listrik itu turut dipengaruhi nilai tukar rupiah ke dolar AS mencapai Rp 14 ribu, pertumbuhan ekonomi 5,4-5,8%, dan harga minyak ICP berkisar USD 60-70 per barel dalam asumsi RAPBN 2019.
“Iya, itu tidak bisa disangkal ya, soal kurs. Nanti pengguna listrik yang mampu tapi disubsidi akan dievaluasi, tapi itu nanti. Harus ada verifikasi ulang,” tegas Andy.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan