kumparan
16 Februari 2018 17:16

Perum Perindo Terkendala Biaya untuk Serap Ikan dari Wilayah Timur

Nelayan lelang hasil tangkapan ikan
Nelayan lelang hasil tangkapan ikan (Foto: Antara/Ampelsa)
Perum Perikanan Indonesia (Perindo) terkendala biaya angkut logistik yang mahal untuk bisa menyerap ikan hasil tangkapan nelayan dari wilayah Indonesia timur. Sebab, untuk mengangkut ikan Perum Perindo biasanya menggunakan kapal milik swasta.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda mengakui serapan tangkapan ikan nelayan di timur Indonesia tidak optimal. Menengok hingga kini, permasalahan biaya angkut ikan dari timur Indonesia belum teratasi.
“Kalau bicara suplai ikan di timur itu luar biasa. Tapi kami terkendala pengiriman ikan dari timur yang cost-nya mahal,” kata Risyanto saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Jumat (16/2).
Dia mencontohkan apabila membeli ikan di Merauke dengan harga Rp 4.300 kg, biaya angkut per kapalnya menuju Jawa mencapai Rp 52 juta. Dengan adanya biaya angkut itu, harga ikan tersebut ketika sampai ke Pulau Jawa bisa mencapai Rp 8.000 per kg.
“Sementara harga ikan itu di pasaran misalnya di bawah itu. Tentu ikan yang kita jual menjadi tidak kompetitif,” katanya.
ADVERTISEMENT
Menurut Risyanto, untuk mengatasi permasalahan tersebut tol laut menuju Indonesia timur harus segera diselesaikan. Dia menyebut ketika ikan itu diangkut melalui tol laut, maka biaya pengiriman bisa terpangkas hingga 50%.
“Misal selama ini biaya angkut dari Merauke Rp 52 juta per kapal, dengan adanya tol laut bisa menjadi Rp 25 juta per kapal. Kalau misalnya kita mengirim ratusan river, ini bisa membuat harga ikan kompetitif,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta Perindo menyerap ikan dari kawasan timur Indonesia yang jumlahnya surplus. Jika hal itu tidak dilakukan, Susi khawatir surplus ikan di wilayah tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi nelayan.
“Nelayan di Timika dan Merauke menunggu dua minggu sekali untuk diangkut ikannya. Ini harus menjadi perhatian kita,” kata Susi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan