Bisnis
·
29 Juli 2021 6:11
·
waktu baca 3 menit

Populer: Medali Olimpiade Tokyo Bukan Emas Murni; Naik Pesawat Harus Vaksin

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Populer: Medali Olimpiade Tokyo Bukan Emas Murni; Naik Pesawat Harus Vaksin (468862)
searchPerbesar
Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Issei Kato/REUTERS
Sepanjang Rabu kemarin berita mengenai medali Olimpiade Tokyo yang ternyata tidak terbuat dari kepingan emas murni, menjadi berita paling banyak dibaca.
ADVERTISEMENT
Berita lainnya masih seputar sumbangan Rp 2 triliun yang mengagetkan dari keluarga almarhum Akidi Tio. Aturan vaksin bagi penumpang pesawat juga menjadi berita paling populer kumparanBisnis.
Berikut rangkuman lengkap berita yang paling banyak dibaca kemarin, Rabu (29/7):

Medali Emas Olimpiade Tokyo Ternyata Bukan Emas Murni, Berapa Harga per Keping?

Medali emas menjadi buruan setiap atlet, termasuk di ajang Olimpiade Tokyo yang tengah berlangsung. Mencapai puncak podium dan meraih gelar untuk disebut juara, menjadi momen emas bagi setiap atlet.
Tapi momen emas itu sendiri, tak benar-benar dihargai oleh medali emas murni. Hal ini terjadi dalam Olimpiade Tokyo. Media terkemuka Skotlandia, The Scotsman, mengungkapkan bahan baku terbesar dari setiap keping medali emas di Olimpiade Tokyo adalah perak.
ADVERTISEMENT
"Emas hanya pelapis permukaannya saja, untuk memberi efek mengkilap dan mewah. Tapi bahan baku utamanya adalah perak yang mencapai 92,5 persen," tulis The Scotsman, Selasa (27/7).
Medali emas yang dibagikan untuk para juara di Olimpiade Tokyo, memiliki diameter 85 mm dan ketebalan 3 mm. Sedangkan beratnya 556 gram per keping, namun kadar emasnya sendiri hanya 6 gram.
Dengan komposisi bahan yang dominan perak serta bobot total 556 gram, harga medali emas Olimpiade Tokyo mencapai USD 820 atau setara Rp 11,9 juta. Harga tersebut (campuran perak dan emas) sudah terbilang bagus, mengingat harga komoditas mineral tambang itu di pasar dunia sedang membaik.
Kalau saja seluruhnya emas murni, jika mengacu ke harga logam mulia di Antam misalnya, total harganya bisa di atas Rp 500 juta. Sementara dengan harga Rp 11,9 juta, jika dikonversi ke harga emas Antam, nilainya 'hanya' setara 12,6 gram emas.
ADVERTISEMENT
Yang menarik, emas yang jadi bahan baku medali dikumpulkan dari limbah ponsel sumbangan warga. Telah menjadi pengetahuan umum, bahwa komponen elektronik seperti motherboard, prosesor, VGA, dan sound card mengandung emas kadar 99 persen. Hal ini juga terdapat dalam ponsel.
Disebut-sebut Keluarga Akidi Tio di soal Sumbangan, BI: Kami Tak Ada Komunikasi
Populer: Medali Olimpiade Tokyo Bukan Emas Murni; Naik Pesawat Harus Vaksin (468863)
searchPerbesar
Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri menerima bantuan Rp 2 Triliun untuk penanganan COVID-19. Foto: Dok Pribadi
Keluarga mendiang Akidi Tio, pengusaha asal Aceh Timur yang akan menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan COVID-19, menyebut-nyebut Bank Indonesia (BI) dalam penyerahan dana tersebut. Sebelumnya, keluarga Akidi Tio menyatakan akan menyerahkan donasi itu ke Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel).
Dokter keluarga Akidi Tio, Prof dr Hardi Darmawan, mengatakan anak Akidi Tio di Jakarta sempat akan terbang ke Palembang bersama notaris dan Bank Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Sebetulnya yang sukses itu anak-anaknya di Jakarta, mereka rencana mau datang ke Palembang bersama notaris dan juga dari BI, namun batal karena situasi COVID-19 saat ini,” kata Hardi, Rabu (28/7), seperti dilansir urban.id, media partner kumparan di Palembang.
Dikonfirmasi terpisah, Bank Indonesia menyatakan belum berkomunikasi dengan keluarga Akidi Tio terkait hal tersebut. Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, mengatakan tak mengetahui soal keterlibatan BI dengan sumbangan Rp 2 triliun Akidi Tio.
"Saya malah baru dengar ini. Saya enggak pernah dengar atau saya yang enggak tahu. Mungkin saya enggak tahu," ujar Erwin saat dihubungi kumparan, Rabu (27/7).
Erwin menjelaskan jika pihak Akidi Tio menyampaikan sumbangan sebesar Rp 2 triliun lewat transfer, hal itu bisa saja dilakukan. Tapi memang pihak bank akan melakukan pengecekan sumber uang dan tujuan penerima.
ADVERTISEMENT
Aturan Penumpang Pesawat di PPKM Level 3 dan 4: Harus Sudah Vaksinasi
Populer: Medali Olimpiade Tokyo Bukan Emas Murni; Naik Pesawat Harus Vaksin (468864)
searchPerbesar
Calon penumpang pesawat di Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (1/7/2021). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Seiring perpanjangan PPKM Level 3-4 di Jawa Bali dan sejumlah wilayah lainnya, Kementerian Perhubungan menerbitkan aturan baru bagi penumpang pesawat. Salah satu klausul dalam Surat Edaran Nomor SE 57 Tahun 2021, mengharuskan penumpang pesawat sudah di-vaksinasi.
Dirjen Perhubungan Udara, Novie Riyanto, mengatakan aturan tersebut berlaku sejak 26 Juli 2021, seiring instruksi Mendagri soal perpanjangan PPKM Level 3 dan 4.
“Syarat terbaru penumpang pesawat untuk penerbangan dari atau ke bandar udara Pulau Jawa dan Pulau Bali, serta daerah yang ditetapkan melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri sebagai daerah dengan kategori PPKM Level 3 dan 4, wajib menunjukkan kartu vaksinasi (minimal vaksinasi dosis pertama)," kata Novie Riyanto dalam keterangannya, Rabu (28/7).
ADVERTISEMENT
Selain menunjukkan surat keterangan vaksin minimal dosis pertama, calon penumpang juga tetap harus melengkapi diri dengan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR. Ada pun masa berlaku surat keterangan tersebut, maksimal 2x24 jam sebelum keberangkatan.
Dirjen Perhubungan Udara menambahkan, untuk penerbangan antar-bandar udara di daerah PPKM Level 1 dan 2, cukup menunjukkan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR atau hasil negatif rapid test antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 2x24 jam sebelum keberangkatan.