kumparan
19 Feb 2019 13:14 WIB

PR dari Jokowi buat SKK Migas: Garap Cadangan Migas di Laut Dalam

Eksplorasi migas lepas pantai. Foto: Wikimedia Commons
Dalam debat calon presiden dua hari lalu, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia masih punya pekerjaan rumah yang besar dalam mengoptimalkan potensi sumber minyak dan gas di laut dalam (offshore atau deep water).
ADVERTISEMENT
Kata dia, saat ini masih banyak potensi cadangan migas laut dalam yang belum terekplorasi. Karena itu, dia ingin mendorong eksplorasi lebih masif lagi agar bisa menemukan cadangan migas baru untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Terkait hal itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengaku pernyataan Jokowi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan lembaganya.
Dia berharap, Blok Masela yang sebentara lagi Plan of Development (PoD)-nya bakal disetujui bisa menjadi pintu masuk untuk mendorong kegiatan eksplorasi minyak laut dalam lainnya.
"Oh iya, itu PR yang harus kita optimalkan. Bahwa offshore itu lebih serius yang dalam, deep water dan shallow water. Kalau Masela segera bisa selesai, bisa jadi driver buat yang lain," kata Dwi saat ditemui dalam acara IndoGas 2019 di JCC, Jakarta, Selasa (19/2).
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto rapat kerja bersama komisi VII DPR RI, Senin, (11/2). Foto: Jamal Ramdhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data SKK Migas, ada 128 cekungan di Indonesia, sebanyak 74 di antaranya belum dieksplorasi. Terdapat 10 area yang potensial untuk ditemukan cadangan migas baru dalam jumlah besar.
Ke-10 area tersebut adalah di Mesozoic Play di Sumatera Utara, Basin Center Play di Sumatera Tengah, Fractured Basement Play di Sumatera Selatan, Miocene Greater Deltaic Sandstone Play di Tarakan Offshore.
Ada juga Deltaic Deepwater Play Kutai Offshore, Pre-Tertiary Play di NE Java-Makassar Strait, Miocene Build-up Carbonate Play di Buton Offshore, Jurassic Sandstone Play di Bird's Body, dan Jurassic Sandstone Play di Warim.
Ke-10 area itu berada di lima regional yang datanya sudah terbuka yaitu di Sumatera 208 seismik dan 53 sumur, Natuna 28 seismik dan 43 sumur, Kalimantan 285 seismik dan 106 sumur, Jawa 308 seismik dan 56 sumur, serta Indonesa Timur 487 seismik dan 110 sumur.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan