kumparan
24 April 2018 11:39

Presiden soal Swasembada Pangan: Masih Butuh Waktu

Jokowi Menjawab. (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Menghadapi bulan puasa dan lebaran, pemerintah menaruh perhatian khusus pada pengendalian harga bahan pokok. Kementerian Perdagangan misalnya, sejak 13 April 2018 menegaskan kembali pemberlakuan harga eceran tertinggi (HET), untuk sejumlah komoditas pangan.
ADVERTISEMENT
Di antara komoditas yang paling mendapat perhatian, adalah beras serta daging. Terutama beras karena sangat sensitif terhadap inflasi, harganya dipatok Rp 9.450/kg untuk beras medium dan Rp 12.800/kg untuk beras premium.
Presiden Joko Widodo menilai, selama ini harga pangan terkontrol dengan baik. Indikatornya adalah rendahnya angka inflasi dalam beberapa waktu terakhir.
“Kita lihat contoh inflasi saja. Pegangannya itu harus angka-angka, jangan tebak-tebakkan. Angka inflasi sejak 2015 kita stabil di bawah 4, kurang lebih 3,5 naik dan turun,” kata Presiden dalam wawancara khusus dengan kumparan (kumparan.com), di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/4).
Presiden mengakui, meski stabilitas harga bahan pangan pokok terjaga, namun Indonesia masih perlu meningkatkan ketahanan pangan. “Kita perlu ketahanan pangan, iya. Tapi (masih) memerlukan waktu dan kita ingin kejar, ingin swasembada. Target sudah saya berikan kepada menteri-menteri,” papar Jokowi.
Impor pangan (Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan)
Mengacu pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II-2017 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dalam 3 tahun terakhir Indonesia masih tergantung pada komoditas impor. Di antaranya beras, gula putih, dan daging sapi. BPK juga mengungkapkan, impor pangan tidak dilakukan dengan prosedur yang benar.
Impor pangan (Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan)
Khusus untuk beras, dalam 3 tahun terakhir impornya memang turun. Meskipun, penentuan volume impor melebihi dari data kebutuhan nasional. Jika pada 2015 impor beras mencapai 1,5 juta ton, maka pada 2016 turun menjadi sekitar 1 juta ton. Sedangkan mengutip data Badan Pusat Statistik, impor beras pada 2017 mencapai 256,6 ribu ton.
Impor pangan (Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan)
Namun Presiden menekankan, beberapa komoditas sudah ada yang tidak impor lagi, bahkan Indonesia sudah bisa mengekspor. “Ya paling tidak dulu impor jagung, sekarang produksi jagung sudah melimpah dan tidak impor. Kemudian bisa ekspor beberapa komoditas pertanian, seperti bawang merah misalnya, kemudian beras di dekat perbatasan kita bisa ekspor,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Menurut Jokowi, produksi pangan nasional secara tahunan meningkat. Namun pada saat yang bersamaan, konsumsi dalam negeri juga meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Presiden mengungkapkan, jumlah penduduk setiap tahun bertambah sekitar 3 juta.
“Terakhir total penduduk kita yang saya terima (laporan), sudah 263 juta. Naik 12-an juta. Ini makannya dari mana? Ya dari kenaikan produksi beras. Artinya ada kenaikan tetapi dimakan oleh kenaikan penduduk kita,” tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan