Produk Kurang Laku, Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan UMKM
·waktu baca 2 menit

Pelaku UMKM sering kali mengalami kesulitan ketika produk yang mereka hasilkan kurang diminati bahkan tak laku di pasaran. CEO & Founder HMNS, Rizky Arief Prakoso memberikan penjelasan kesalahan-kesalahan apa yang tak sadar dilakukan UMKM sehingga produk mereka kurang laku di pasar.
Menurutnya, UMKM perlu membangun sebuah brand atau produk dengan melibatkan hubungan dengan konsumen. Menurutnya, sebuah produk tidak dapat diterima di pasar karena kurang ada kedekatan antara produk yang dikembangkan dengan konsumen.
“Jadi kalau kita punya brand tapi kita gak bisa mengkomunikasikan misi kita, apa purpose kita, apa produk kita, lalu kita gak bisa membangun hubungan sama customers kita, kita gak akan pernah membuat brand yang membuat orang akan peduli,” katanya dalam Webinar kumparan Master Class, Sabtu (28/5).
Kesalahan kedua yang sering dilakukan UMKM adalah bagaimana pelaku UMKM menggunakan media sosial. Menurutnya, banyak UMKM yang menggunakan media sosial hanya sebagai papan iklan yang memamerkan produk mereka.
Seharusnya media sosial dimanfaatkan untuk menjalin hubungan antara brand dengan konsumen. Menurutnya media sosial dapat digunakan sebagai media interaktif, dari sana pelaku UMKM akan paham apa yang sebetulnya dibutuhkan konsumen.
“Prinsip utamaku membuat brand adalah, brand saat ini tidak bisa bergerak searah lagi. Brand sekarang adalah dua arah relationship. Kalau kita gak bisa gunakan media sosial kita untuk bangun relationship dengan customers kita, brand kita tidak akan pernah punya impact besar,” kata dia.
Untuk itu, menurutnya pelaku UMKM harus lebih sering menghabiskan waktunya dengan konsumen. Rizky menceritakan produk HMNS yang dia kelola, dirinya menghabiskan 6-8 jam per hari untuk berinteraksi dengan konsumen untuk mendapat informasi sebenarnya apa yang dibutuhkan mereka.
“Ketika sebuah UMKM itu bicara dengan timnya, lebih sering dibanding dengan customers, itu adalah hal yang salah. Ada hal yang salah ketika UMKM ngobrol lebih sering dengan tim internalnya sendiri dibanding ngobrol dengan customers,” pungkasnya.
Idealnya menurut Rizky adalah UMKM menghabiskan waktu lebih dari 50 persen untuk berinteraksi dengan konsumen, sisanya untuk komunikasi internal.

