Rokok Elektrik yang Beredar di Pasaran Diimpor dari China

8 November 2017 18:08 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Pengguna Rokok Elektrik (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pengguna Rokok Elektrik (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
ADVERTISEMENT
Peredaran rokok elektrik atau vape di Indonesia makin marak. Sayangnya belum ada aturan khusus yang mengatur peredaran rokok elektrik.
ADVERTISEMENT
Pemerintah kini tengah menyusun aturan guna membatasi sekaligus memperketat peredaran rokok elektrik. Misalnya rokok elektrik lolos uji kelayakan dan wajib menggunakan label Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini dilakukan karena rokok elektrik yang diperjualbelikan di pasaran diimpor dari negara lain, terutama China.
"Dari China ya. Amerika juga ada tetapi kebanyakan brand-nya dari AS tetapi bikinnya di China," ungkap Humas Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Rhomedal kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (8/11).
Ilustrasi Pengguna Rokok Elektrik (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pengguna Rokok Elektrik (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Di pasaran, rokok elektrik buatan China dibanderol dengan harga Rp 250.000-350.000/unit. Rizky salah satu penjual rokok elektrik di daerah Ciputat, Tangerang Selatan mengatakan, brand rokok elektrik asal AS bisa dijual lebih mahal, sampai jutaan rupiah setiap unitnya.
"Merk China yang digemari itu namanya Geevape, Kalau dari AS itu Thinkvape dan Vigod," sebutnya.
ADVERTISEMENT
Sedangkan rokok elektrik memiliki 2 jenis yaitu electrical dan mechanical. Perbedaannya bila electrical memiliki sistem keamanan yang cukup tinggi. Dia mampu mendeteksi kemampuan baterai pada rokok elektrik. Jenis ini biasanya memiliki tampilan layar. Sedangkan tipe mechanical tidak memiliki kemampuan seperti electrical.
"Untuk pemula tidak disarankan menggunakan mechanical," sarannya.