Kumparan Logo

Rupiah Berpotensi Menguat ke Kisaran Rp 17 Ribu Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Rupiah berpeluang kembali menguat usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan yang dilaksanakan secara mendadak pada hari ini, Selasa (9/6).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di kisaran Rp 18.058 per dolar AS pada Selasa (9/6) pukul 19.01 WIB.

Head of Investment Portfolio Strategy Bank Sinarmas, Ismail Muharam, menyatakan rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS. Selain itu, peluang rupiah untuk kembali menguat saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal.

“Untuk rupiah kembali menguat (ke Rp 17.000) pertama ya kita bisa. Saya rasa risiko seasonal kita sudah lewat dari MSCI yang membuat portfolio outflow, kita juga melihat seasonality rupiah yang terjadi pada bulan Maret, April, Mei, seperti ada dividend repatriation, terus musim haji itu sudah lewat,” kata Ismail saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/6).

Ke depan, Ismail memandang sentimen utama yang akan menentukan arah pergerakan rupiah adalah perkembangan perang di Timur Tengah. Jika perang terus berlanjut, harga minyak berpotensi tetap tinggi sehingga dapat menekan kondisi fiskal Indonesia.

“kalau kita lihat di bulan April trade balance kita itu sebenarnya sudah hampir habis, yang mana itu memperlihatkan seberapa besar dampak dari Timur Tengah terhadap awal ekonomi,” lanjut Ismail.

Menurutnya, prospek penguatan rupiah akan sangat bergantung pada tercapainya penyelesaian perang di Iran, khususnya antara AS dan Iran. Ia menilai apabila ketegangan mereda dan jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, harga minyak dapat turun ke kisaran baru sekitar USD 70 hingga USD 80 per barel, yang akan cukup membantu stabilisasi nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, ia menyoroti langkah BI yang telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hari ini mulai memberikan dampak positif terhadap pergerakan rupiah.

“Kalau kita lihat rupiahnya juga langsung menguat dari Rp 18.100 atau Rp 18.20 sekarang sudah di Rp 18.000, harapannya sekali lag kapasitas dan juga technical outflow dari asing itu sudah mulai mereda,” sebut Ismail.

instagram embed