kumparan
Bisnis15 April 2020 15:34

Saham BNI Menuju Rp 7.000?

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi Saham.
Ilustrasi Saham. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Di tengah pandemi COVID-19 atau virus corona kondisi ekonomi menjadi semakin tidak menentu dan membuat bursa saham menjadi volatil. Kondisi ini membuat investor menahan diri dan berhati-hati dalam mengelola portofolionya di pasar saham RI.
ADVERTISEMENT
Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh titik terendahnya dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya sejumlah saham bluechip anjlok dan meninggalkan harga wajar. Hal ini membuat beberapa saham dinilai sudah undervalued alias lebih rendah dibandingkan nilai fundamentalnya.
Salah satu saham yang harus merasakan imbas pandemi ini adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Saham bank dengan kode BBNI ini ditutup pada level Rp 4.150 pada perdagangan kemarin, Selasa (14/4). Sebelumnya pada 26 Maret lalu, harga saham BBNI sempat menyentuh Rp 2.970 per saham, level terendah dalam satu dekade terakhir atau sejak 16 Agustus 2010.
Pada 2011, saham BBNI juga pernah menyentuh level terendah untuk kedua kalinya yakni di level Rp 2.975 per saham. Dengan begitu level Rp 2.970 berpeluang menjadi level dasar (bottom) sepanjang tahun ini. Selama level tersebut tidak ditembus, secara teknikal saham BBNI berpotensi kembali menanjak.
ADVERTISEMENT
Sejak akhir 2019 hingga Selasa (14/4), saham BBNI sudah turun nyaris 50 persen tepatnya 49,13 persen. Aksi jual masif terus terjadi sejak 20 Februari, hingga akhirnya menyentuh level terendah dalam 10 tahun.
Penurunan tajam dalam waktu singkat tersebut tentunya terlalu berlebihan, terlihat dari indikator stochastic periode mingguan yang berada di wilayah jenuh jual atau oversold (di bawah 20), begitu juga dengan periode bulanan. Stochastic merupakan leading indicator atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik.
Akan tetapi untuk jangka panjang saham BBNI resisten terdekat berada di level Rp 4.850 per saham. Jika level tersebut bisa dilewati BBNI, maka saham bank pelat merah ini berpeluang terus menanjak menuju Rp 6.000 hingga Rp 6.150 saham. Bahkan peluang ke area Rp 6.800 sampai Rp 7.000 akan terbuka jika BBNI mampu melewati level Rp 6.150 per saham.
ADVERTISEMENT
Saham BNI Sudah Murah?
Profit Edisi 4 - Ilustrasi Saham
Ilustrasi bermain saham. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Saat ini nilai buku (book value) saham BBNI berada di level Rp 6.570. Dengan demikian, harga saham pada hari ini mencerminkan pada level 0,63 kali nilai buku (PBV). PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Valuasi ini lebih banyak digunakan untuk emiten dari industri jasa keuangan, terutama bank.
Sebelum IHSG tertekan, rata-rata PBV industri perbankan di Indonesia berkisar 2 kali. Sementara itu secara historis, dalam lima tahun terakhir BNI memiliki rata-rata PBV 1,45 persen. Dengan posisi PBV-nya saat ini, bisa dibilang harga saham BBNI cenderung murah bila dibandingkan dengan nilai fundamentalnya.
"Dari sisi valuasi BNI termasuk yang sudah sangat rendah, Price to book 0,65x, di bawah standar deviasi historisnya," ungkap Head of Investment PT Avrist Asset Management Tbk Farash Farich dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
Namun menurut Farah, kondisi ini bisa menjadi momen investor untuk mengoleksi saham BBNI. Apalagi dengan PBV saat ini yang menandakan saham bank pelat merah ini tengah undervalue.
"Kemungkinan untuk valuasi kembali lebih rendah tetap ada. Tapi paling tidak valuasi saat ini sudah cukup menarik. Namun untuk antisipasi kemungkinan harga bisa lebih turun bisa dilakukan pembelian bertahap," ujarnya.
Menurut Farah, yang perlu dicermati berikutnya terkait saham BBNI adalah rentabilitas perusahaan ini ke depan. Pasalnya book value bukan merupakan level tetap, naik atau turunnya book value akan mengikuti kinerja laba. Bila laba bersih meningkat, maka nilai buku emiten tersebut ikut bergerak naik.
Untuk itu, perlu diperhatikan proyeksi profitabilitas BNI selama 2020, terutama di tengah ancaman pelambatan ekonomi akibat virus corona. Namun, seperti diketahui bank terbesar keempat di Indonesia ini berhasil membukukan kinerja yang baik sampai Februari 2020. Hal ini tercermin dari peningkatan laba bersih, kredit, hingga dana pihak ketiga.
saham, IHSG
Ilustrasi pergerakan saham. Foto: Antarafoto
Laba bersih bank BUMN ini melesat 22,27 persen menjadi Rp 2,58 triliun, dibandingkan Februari 2019 senilai Rp 2,11 triliun. Jika dibandingkan dengan industri perbankan yang hanya tumbuh 8,25 persen di Januari 2020, maka laba BNI tumbuh melampaui industri.
ADVERTISEMENT
Peningkatan laba bersih BBNI didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) hampir 16 persen menjadi Rp 5,92 triliun pada Februari 2020, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 5,11 triliun. Sementara itu, pendapatan komisi dan administrasi yang tetap kuat yakni Rp 1,44 triliun.
Peningkatan pendapatan dan laba bersih ini juga dibarengi dengan kenaikan aset hampir 10 persen pada Februari 2020 menjadi Rp 788,72 triliun. Sementara pada Februari 2019 aset bank pelat merah ini tercatat senilai Rp 718,82 triliun.
Kenaikan aset perusahaan juga didukung oleh peningkatan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga. Per Februari 2020, penyaluran kredit BNI melesat 11,8 persen menjadi Rp 529,53 triliun, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 473,61 triliun. Sementara DPK perusahaan pun tercatat naik 9,83 persen menjadi Rp 573,3 triliun, dibandingkan Februari 2019 senilai Rp 521,97 triliun.
ADVERTISEMENT
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan