Saham-saham Portofolio Jiwasraya Masuk Daftar Paling Jeblok

Persoalan yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) masih jadi polemik yang belum usai. Kinerja keuangan Jiwasraya terus terperosok. Dalam laporan keuangan 2018 unaudited, perusahaan merugi hingga Rp 15,83 triliun.
Kerugian Jiwasraya tak terlepas dari salah kelola investasi di masa lalu. Salah satunya karena keberadaan saham kualitas rendah alias saham gorengan hingga menyebabkan nilai investasi saham Jiwasraya turun drastis.
Berdasarkan data yang diterima kumparan, saham gorengan yang dimaksud di antaranya PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), dan PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM).
Merunut data yang dirilis oleh RTI, setidaknya ada 10 saham yang merosot terparah sepanjang 2019 secara year to date (ytd). Di situ ternyata terdapat dua saham yang masuk dalam portofolio Jiwasraya yang paling jeblok itu, yaitu PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), dan PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM).
PT Pool Advista Finance Tbk (POLA)
Harga saham perusahaan yang bergerak dalam jasa konsultasi dan pengembangan investasi ini merosot 96,93 persen di level Rp 156 per saham. Nilai transaksi Rp 42,6 triliun dan volume perdagangan 20,5 miliar saham.
POLA resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 November 2018. Harga Penawaran Umum Perdana (PUP) saham POLA ditetapkan sebesar Rp 135.
Pada pencatatan perdana kala itu, saham perseroan naik 93 poin atau 68,89 persen ke level Rp 228 dari harga IPO Rp 135. Saham POLA ditransaksikan sebanyak 2 kali dengan volume sebanyak 1.004 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp 22,94 juta. Setelah resmi tercatat, saham POLA hampir menembus batas atas pertumbuhan harga saham yang nantinya bisa terkena auto rejection.
Dari penawaran Waran Seri I tersebut, perusahaan bidang pembiayaan multiguna, investasi, modal kerja, dan pembiayaan syariah itu nantinya akan memperoleh tambahan modal Rp 134,40 miliar.
Per September 2019, aset POLA berada di angka Rp 408,23 miliar. Jumlah itu menurun berturut-turut tiga bulan sebelumnya, yaitu Agustus Rp 430,7 miliar dan Juli Rp 440,13 miliar.
Sementara, kredit macet yang dilihat dari Non Performing Financing (NPF) sebesar 6,71 persen per Desember 2019. Padahal, ambang batas normal semestinya tak lebih dari level 5 persen.
PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM)
PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) merupakan perusahaan yang melakukan penyediaan jasa transportasi laut, pertambangan, konstruksi dan jasa perdagangan umum lainnya.
Perseroan yang didirikan dengan nama PT Panji Adi Samudera pada 26 Agustus 1998 ini, mencatatkan kemerosotan harga saham pada penutupan perdagangan sepanjang tahun 2019 mencapai 70,59 persen di level Rp 50 per saham. Nilai transaksi Rp 26,6 triliun dan volume perdagangan 221,3 miliar saham.
Pada tahun 2007, Perseroan sempat mengubah namanya menjadi PT Trada Maritime Tbk setahun sebelum IPO. Perseroan lalu mengubah namanya kembali menjadi PT Trada Alam Mineral Tbk tanggal 14 Oktober 2017.
Hal itu karena perusahaan melihat bisnis pertambangan khususnya batu bara merupakan prospek cerah yang akan mendorong permintaan kapal tunda dan tongkang Perseroan.
Perseroan lalu melakukan akuisisi perusahaan pertambangan batu bara dan perusahaan jasa pertambangan di Kalimantan Timur, Indonesia. Per 1 Juli 2019, perusahaan mengubah kegiatan usaha utamanya dari industri transportasi menjadi pertambangan batu bara.

