Kumparan Logo

Saran Menperin agar Industri Rokok Kretek Tangan Tetap Bertahan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi asap rokok  (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi asap rokok (Foto: Shutterstock)

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ikut berkomentar terkait dengan situasi sulit yang menghantui industri sigaret kretek tangan (SKT). Menurut Airlangga masih ada jalan keluar menyelamatkan industri SKT agar bisa bertahan.

Sebelumnya, Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PP FSP RTMM-SPSI) mendata jumlah pabrik rokok skala besar dan kecil banyak yang sudah tutup produksi. Pada 2007 tercatat Industri Hasil Tembakau (IHT) berjumlah 4.793 unit. Angka ini berkurang drastis pada 2016 atau 10 tahun kemudian menjadi hanya 1.664 unit saja.

Imbasnya tentu saja pengurangan tenaga kerja. Pada 2010 lalu tercatat, jumlah pekerja yang tergabung dalam organisasi PP FSP RTMM-SPSI sebanyak 235.240 orang. Lima tahun kemudian atau pada 2015, turun menjadi 209.320. Penurunan terus terjadi pada 2017 lalu yakni menjadi 178.624. Itu artinya, selama 8 tahun terakhir, pekerja rokok yang kehilangan pekerjaan sebanyak 56.616 orang.

Bahayanya lagi, tergerusnya industri rokok nasional berdampak juga pada petani tembakau. Terlebih tembakau lokal banyak diserap oleh pabrik rokok SKT.

Airlangga Hartarto tiba Kediaman SBY (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Airlangga Hartarto tiba Kediaman SBY (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)

Menurut Airlangga, jalan satu-satunya adalah dengan menurunkan tarif cukai rokok SKT. Airlangga sudah meminta Kementerian Keuangan agar memberikan perlakuan khusus pengenaan tarif cukai untuk SKT.

"Ya itu tentu Kemenperin (Kementerian Perindustrian) melihat bahwa ada kebijakan cukai. Ada usulan dari Kemenperin agar SKT itu bisa dikurangi rasionalisasinya. Karena memang kan di lain pihak ada rokok putih yang fully otomasi (mesin). Jadi rokok putih menggunakan mesin modern sementar kretek menggunakan SKT," ujar dia kepada kumparan, Sabtu (28/7).

Airlangga menegaskan penyebab utama tergerusnya industri rokok SKT karena tingginya tarif cukai rokok. Sebagai catatan, kenaikan tarif cukai rokok pada tahun ini rata-rata 10,04 persen.

"Ya itu balik lagi kalau yang namanya itu adalah didrive oleh cukai. Jadi kalau cukainya semakin tinggi, tentu akan memberatkan SKT kecil," jelasnya.