Siap-siap, Pasokan Gas dari Indonesia Seret Sampai Akhir Tahun
·waktu baca 2 menit

Turunnya kasus COVID-19 di berbagai negara membuat permintaan energi global meningkat, harga minyak dan gas pun meroket. Hal ini berdampak pada pasokan dari dalam negeri yang diprediksi bakal seret hingga akhir tahun.
Deputi Keuangan dan Monetisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Arief Setiawan Handoko mengatakan, saat ini produksi gas nasional sudah tak mampu lagi memenuhi seluruh permintaan, baik untuk ekspor maupun domestik.
"Kegiatan komersial SKK Migas ini sangat masif sampai harga (pasokan) gasnya enggak ada yang bisa dijual. Suplai agak kurang, sehingga komersialnya perlu direm sedikit," ujar Arief dalam diskusi virtual SKK Migas, Selasa (19/10).
Dia mengatakan, selain permintaan tinggi, beberapa penyebab dari sulitnya pasokan gas hingga akhir tahun ini karena beberapa fasilitas produksi gas yang dimatikan secara terencana (planned shutdown) dan tidak direncanakan (unplanned shutdown).
Arief mengatakan pada Oktober 2021, kebutuhan atau permintaan gas pipa mencapai 4.000 BBTU per hari, namun pasokannya hanya 3.800 BBTU per hari. Itu artinya ada kekurangan pasokan sekitar 200 BBTU per hari.
Lalu di November 2021 juga diprediksi ada selisih atau kekurangan 232 ada selisih 232,9 BBTU per hari antara kebutuhan dan pasokan untuk ekspor dan domestik.
"Begitu juga perkiraan sampai akhir tahun pasokan gas untuk gas pipa 3.890 BBTU per day untuk kebutuhan ekspor 765 BBTU per day dan domestik 3.176 BBTU per daya. Ada shortage sedikit 51,7 BBTU per day," jelasnya.
Seperti diketahui, Singapura tengah kekurangan energi listrik lantaran pasokan gas yang menjadi sumber utamanya terhambat. Terutama pasokan gas pipa yang diimpor dari Natuna, Indonesia.
Imbasnya listrik di Singapura pun menjadi mahal. Bahkan tiga perusahaan penyedia listrik Singapura menyetop usahanya dan dua perusahaan lainnya menolak menerima pelanggan baru karena kondisi ini.
