Bisnis
·
19 Oktober 2020 15:46

Sri Mulyani Akui Pemulihan Ekonomi Tidak Secepat yang Diharapkan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sri Mulyani Akui Pemulihan Ekonomi Tidak Secepat yang Diharapkan (244634)
Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan realisasi APBN 2020 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Seluruh negara di dunia saat ini masih berjuang melawan pandemi COVID-19 baik dari sisi kesehatan juga dari sisi ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dampak pandemi COVID-19 ternyata cukup brutal sehingga pemulihan ekonomi ternyata lebih lambat dari yang diperkirakan.
ADVERTISEMENT
“Tadinya mungkin pada awal tahun banyak yang memprediksi bahwa rebound akan berjalan sangat cepat. Namun sesudah melihat nature dari COVID-19 ini mereka (negara-negara di dunia) menjadi lebih hati-hati,” ungkap Sri Mulyani di Capital Market Summit & Expo 2020, Senin (19/10).
Menurut Sri Mulyani saat ini hampir semua negara menghadapi defisit keuangan yang cukup dalam. Sebab saat ini seluruh negara menaikkan belanja mereka untuk penanganan kesehatan, menolong dunia usaha, dan menolong masyarakatnya. Namun pada saat yang sama penerimaan pajak setiap negara mengalami tekanan yang luar biasa.
“Oleh karena itu kalau kita lihat defisit financing dari seluruh negara-negara ini mereka melonjak luar biasa besar. Dari kuartal I ke kuartal II, maupun kalau kita lihat dari tahun 2019 ke tahun 2020 dan forecast-nya,” ujar Sri Mulyani.
Sri Mulyani Akui Pemulihan Ekonomi Tidak Secepat yang Diharapkan (244635)
Menteri Keuangan, Sri Mulyani (kedua dari kiri)memberikan keterangan pers terkait APBN Kinerja dan Fakta (Kita) Agustus 2019 di Kantor Kemenkeu. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Bahkan menurutnya di negara-negara barat, defisit keuangan mereka mencapai 10 sampai 13 persen. Misalnya seperti di Inggris, Spanyol, Prancis, dan Italia defisit mereka tercatat di atas 11 persen. Bahkan jika dilihat datanya, Sri Mulyani mengatakan hingga tahun depan mereka mungkin masih akan mengalami defisit yang cukup besar.
ADVERTISEMENT
Kondisi serupa juga terjadi pada negara-negara di sekitar Indonesia. Malaysia mengalami defisit sebesar 6,5 persen, Filipina 7,6 persen dan Singapura di 13,5 persen serta Thailand di 6,0 persen.
Menurut Sri Mulyani kondisi ini menggambarkan bahwa seluruh dunia saat ini tengah menggunakan instrumen masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kesehatan fiskal mereka. Sehingga kemampuan setiap negara untuk melakukan ekspansi fiskal harus disesuaikan dengan kondisi awal fiskal mereka. Alhasil hal tersebut juga berpengaruh kepada percepatan pemulihan ekonomi masing-masing negara.
“Ini yang menggambarkan betapa sangat dalam dan brutalnya covid mempengaruhi seluruh perekonomian di dunia. Namun kita tetap berusaha untuk mengembalikan perekonomian kita kepada zona positif,” tandasnya.