Sri Mulyani: APBN per Agustus 2022 Surplus Rp 107,4 Triliun!

26 September 2022 18:39
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020).  Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
ADVERTISEMENT
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 masih menunjukkan surplus senilai Rp 107,4 triliun atau setara 0,58 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Agustus 2022. Itu artinya, APBN sudah mencatatkan surplus sebanyak delapan kali berturut-turut.
ADVERTISEMENT
"Overall balance (per Agustus 2022) juga surplus Rp107,4 triliun, atau dalam hal ini 0,58 persen dari PDB kita," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (26/9).
Sampai akhir Agustus, pendapatan negara mencapai Rp 1.764,4 triliun atau tumbuh 49,8 persen secara tahunan (yoy). Tingginya angka pendapatan negara ditopang dari PPh non migas Rp 661,5 triliun dan PPN & PPnBM Rp 441,6 triliun.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Kepabeanan dan cukai mencapai Rp 206,2 triliun, ditopang oleh bea keluar yang sebesar Rp 34,6 triliun dan cukai Rp 134,65 triliun. Kemudian untuk Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tembus di angka Rp 386 triliun.
Sementara belanja negara mencapai Rp 1.657 triliun atau naik 6,2 persen (yoy). Realisasi belanja negara meliputi belanja Kementerian Lembaga (K/L) sebesar Rp 575,8 triliun serta non K/L sebesar Rp 602,3 triliun.
ADVERTISEMENT
Untuk Transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp 478,9 triliun. Kemudian untuk sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) per Agustus 2022 mencapai Rp 394,2 triliun.
"Dengan surplus ini, dan issuance utang yang jauh lebih rendah, defisit yang lebih rendah, menjadikan strategi APBN kita sangat sesuai dengan tantangan saat ini yang berasal dari cost of fund yang tinggi, guncangan di sektor keuangan, maupun tren kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS," pungkas dia.