Bisnis
·
18 Oktober 2020 11:39

Sri Mulyani Sharing Cara RI Hadapi Corona ke Bos IMF dan Bank Sentral Eropa

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sri Mulyani Sharing Cara RI Hadapi Corona ke Bos IMF dan Bank Sentral Eropa (93743)
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (kiri) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) di Seminar Empowering Women in Workplace di Annual Meeting IMF-WB, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Menteri Keuangan Sri Mulyani berbagi pengalaman dalam menghadapi dampak pandemi corona ke sektor perekonomian. Sharing tersebut disampaikan kepada pemimpin lembaga keuangan dunia seperti Managing Director of IMF Kristalina Georgieva, President of the European Central Bank Christine Lagarde, Economist and International Development Expert Ngozi Okonjo-Iweala. Diskusi virtual berlangsung pada cara Debate on The Global Economy, Kamis (15/10).
ADVERTISEMENT
Indonesia, lanjut Sri Mulyani, mendesain kebijakan yang komprehensif untuk penanganan sektor kesehatan, perlindungan sosial, dan dukungan dunia usaha terutama UMKM, serta untuk menjaga stabilitas sektor keuangan.
Sri Mulyani Sharing Cara RI Hadapi Corona ke Bos IMF dan Bank Sentral Eropa (93744)
Menteri Keuangan Sri Mulyani, Wamen Keuangan Suahasil Nazara, dan Kepala Dirjen Pajak Suryo Utomo menunjukan bukti SPT elektronik di Jakarta, Selasa (10/1). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Saat pandemi corona menghantam, pemerintah Indonesia memperlebar defisit anggaran terhadap PDB hingga 6,34 persen pada 2020. Sementara realisasi defisit anggaran mencapai 3,05 persen pada Agustus 2020.
Meski diperlebar, Sri Mulyani menyebut Indonesia memiliki rekam jejak yang baik dalam mengelola defisit dan pembiayaan dengan baik untuk menutup defisit.
"Akses yang baik ke pasar pembiayaan ini disebabkan kepercayaan yang diberikan oleh lembaga keuangan internasional serta rating agency kepada Indonesia," ungkap Sri Mulyani dalam akun Instagram-nya seperti dikutip kumparan, Minggu (18/10).
Lanjut Sri Mulyani, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) mendapatkan extraordinary financing. Penyediaan likuiditas oleh BI di tengah turbulensi ini dinilai sangat membantu tanpa impresi BI kehilangan independensi.
ADVERTISEMENT
"Hal tersebut merupakan one of policy karena situasi extraordinary," tuturnya.