kumparan
16 Agustus 2018 21:12

Sulitnya Masyarakat Sebatik Dapatkan LPG 3 Kg dan Premium

Gas Petronas dan Shell ukuran 14 dan 16, Pulau Sebatik
Gas Petronas dan Shell ukuran 14 dan 16 kg di Pulau Sebatik. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia belum sepenuhnya sejahtera dan kondisinya masih memprihatinkan. Bagi masyarakat Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, mereka sangat mengeluh sulitnya mendapatkan pasokan gas LPG ukuran 3 kg dan 12 kg dari Pertamina.
ADVERTISEMENT
Akibat kurangnya pasokan dari Pertamina, masyarakat di sana banyak yang beralih menggunakan gas dari Malaysia, seperti Shell dan Petronas.
"Di sini sulit sekali LPG dari Pertamina ukuran 3 kg dan 12 kg. Makanya kami tong gas (tabung gas) ambil dari Petronas dan Shell," kata warga Sebatik bernama Alamsyah kepada kumparan, Kamis (16/8).
Alamsyah menuturkan untuk gas LPG milik Pertamina ukuran 14 kg dan 16 kg di daerahnya bisa dijual berkisar Rp 170 ribu hingga Rp 200 ribu atau sekitar 50 ringgit Malaysia. Sementara untuk gas ukuran 12 kg dijual sekitar Rp 120 ribu.
Gas Petronas dan Shell ukuran 14 dan 16, Pulau Sebatik
Gas Petronas dan Shell ukuran 14 dan 16 kg di Pulau Sebatik. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
"Gas dari Pertamina itu hanya datang satu bulan dua kali, itu pun kita ambil dari Kabupaten Nunukan yang jaraknya dari sini lumayan jauh harus menyeberang dulu. Sedangkan Shell dan Petronas, kita ambil dari Tawau, Malaysia hanya sekitar 15 menit," jelas Alamsyah.
ADVERTISEMENT
Selain mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan gas, Alamsyah juga menyayangkan sulitnya mereka mendapatkan BBM jenis Premium di Sebatik. Rata-rata, SPBU di Sebatik hanya menjual BBM berjenis Pertamax dan Pertalite.
"Kalau boleh jujur, kita enggak sanggup. Masyarakat biasa dipaksa untuk beli Pertamax. Per liter itu Rp 9.600, sementara Pertalite Rp 8.200," keluhnya.
Akibat mahalnya harga BBM, mereka lebih memilih menggunakan Petronas yang hanya berkisar Rp 6.500 per liternya. Alamsyah berharap pemerintah dapat mencari solusi permasalahan langkanya gas dan BBM jenis Premiun di wilayah Sebatik.
"Kita inginnya pemerintah lebih memfasilitasi kebutuhan kita di perbatasan ini. Kita bukannya tidak cinta dengan produk Indonesia, tetapi kenyataannya produk Indonesia itu sulit di sini, lebih mudah mendapatkan produk Malaysia dibanding Indonesia," tutup Alamsyah.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan