Bisnis
·
22 Mei 2020 20:04

Supaya The New Normal Tak Makin Sengsarakan Petani

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Supaya The New Normal Tak Makin Sengsarakan Petani (44735)
Petani memanen buah blewah di Desa Jarin, Pamekasan, Jawa Timur, Jumat (8/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Pemerintah meski memperhatikan nasib kalangan petani di masa pandemi corona. Terlebih, saat skenario The New Normal diterapkan agar petani tak semakin menanggung kesusahan dalam pertanian.
ADVERTISEMENT
Pasalnya, selama pandemi ini petani selain mengalami risiko penurunan produksi pertanian juga banyak terhambat dalam distribusi.
Di masa pandemi ini, Ahli Kelembagaan Petani Syahyuti Si-Buyuang menekankan petani yang tetap berproduksi saat The New Normal ini mesti dibekali dengan protokol pengamanan COVID-19 yang juga tak bisa diabaikan.
Ia juga menggarisbawahi bila petani juga mesti mendapatkan fasilitas yang memadai bukan saja dalam produksi pertanian, namun juga akses dalam informasi dan berjejaring distribusi.
Alat-alat produksi pertanian itu bisa diakses dengan mengoptimalkan peranan kelembagaan komunitas pertanian di masyarakat. Sedangkan, pelayanan akses internet dan marketing digital juga mesti menjadi perhatian di masa 'hidup berdampingan' dengan pandemi corona ini.
"Perlu mapping. Kalau petani enggak punya gadget gimana (berkembang)? Jaringan wifi gimana bisa memadai di desa-desa," ujar Syahyuti dalam diskusi pertanian secara online, Jumat (22/5).
Supaya The New Normal Tak Makin Sengsarakan Petani (44736)
Petani bagikan tomat karena permintaan pasar menurun diakibatkan virus corona. Foto: Reuters/JESUS BUSTAMANTE
Syahyuti pun menuturkan, upaya-upaya membantu petani ini perlu secara konkret dilakukan dari hulu ke hilir. Termasuk, menguatkan kelembagaan petani dari lingkup terkecil.
ADVERTISEMENT
"Kelompok tani dan gapoktani misalnya, ini perlu dimanfaatkan optimal untuk potensi bisnis petani," kata dia.
Senada, Ahli Pangan dan Gizi Drajat Martianto mengatakan, kalangan petani juga bisa menjadikan pandemi ini momentum untuk memulai pola bisnis pertanian yang lebih mumpuni. Tak hanya bergantung pada tengkulak misalnya, namun memulai untuk berkolaborasi menjalankan bisnis pertanian.
"Harus membangun bumdes (badan usaha milik desa) menjadi holding, menggandeng marketplace," ujarnya.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
*****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!