Survei SMRC: 69 Persen Orang Merasa Ekonomi Rumah Tangga Lebih Buruk Saat Ini

9 Agustus 2020 16:01
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Survei SMRC: 69 Persen Orang Merasa Ekonomi Rumah Tangga Lebih Buruk Saat Ini (86566)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Sosial Juliari P Batubara didampingi Ketua KPK Komjen Firli Bahuri mengecek distribusi bansos sembako di Jakarta Selatan. Foto: Dok. Kemensos
ADVERTISEMENT
Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan sebanyak 69 persen warga Indonesia merasa keadaan ekonomi rumah tangga mereka lebih buruk saat ini ketimbang sebelum ada wabah virus corona.
ADVERTISEMENT
Survei tersebut dilakukan pada 1.203 responden rumah tangga yang ditanya melalui sambungan telepon pada periode 29 Juli-1 Agustus 2020 dengan margin of error 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
“Kita menemukan bahwa 69 persen warga merasa ekonomi rumah tangganya lebih buruk atau jauh lebih buruk dibandingkan sebelum ada COVID-19,” kata Peneliti SMRC Saidiman Ahmad dalam paparannya di acara SMRC “Ekonomi COVID-19 dan Persepsi Publik tentang Investasi” secara virtual, Minggu (9/8).
Dia mengatakan, dari 69 persen itu sebanyak 60 persen merasa ekonomi rumah tangga mereka lebih buruk dan 9 persen sisanya merasa jauh lebih buruk.
Sedangkan 18 persen merasa tidak ada perubahan ekonomi di dalam rumah tangga mereka selama pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
“Lalu 12 persen merasa lebih baik, rinciannya, 10 persen merasa lebih baik dan 2 persen jauh lebih baik,” lanjutnya.
Jika dilihat dari trennya, kata dia, ada fluktuasi angka terhadap kondisi ekonomi rumah tangga sejak masuknya virus corona hingga saat ini.
Survei SMRC: 69 Persen Orang Merasa Ekonomi Rumah Tangga Lebih Buruk Saat Ini (86567)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pedagang yang memasang pembatas kios menggunakan plastik melayani pembeli di Pasar Santa Jakarta. Foto: Wahyu Putro A/ANTARA FOTO
Sebelum COVID-19, dalam survei SMRC, hanya 38 persen warga yang menyatakan keadaan ekonomi rumah tangga lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi, ketika masuk COVID-19 dan masuk masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada April 2020, angka masyarakat yang merasa ekonomi rumah tangganya buruk naik.
“Puncaknya itu pada minggu ketiga Mei 2020, Ada 83 persen warga yang menyatakan ekonomi rumah tangganya buruh atau lebih buruk,” lanjutnya.
Tren tersebut perlahan turun saat pemerintah melonggarkan PSBB terlihat pada minggu pertama Juli 2020, masyarakat yang merasa ekonomi rumah tangganya terpuruk menjadi 66 persen.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, pelonggaran PSBB membuat jumlah positif corona naik drastis karena banyak orang beraktivitas di luar rumah. Kondisi ini membuat jumlah warga yang ekonomi rumah tangganya memburuk naik lagi seperti pada survei hari 69 persen.

74 Persen Merasa Ekonomi Nasional Lebih Buruk Saat COVID-19

Selain keadaan ekonomi rumah tangga, SMRC juga menanyakan pandangan warga terhadap kondisi ekonomi nasional saat ini dibandingkan tahun lalu.
Hasilnya, sebanyak 87 persen warga menilai lebih ekonomi nasional saat ini lebih buruk. Rinciannya, 74 persen merasa lebih buruk dan 13 persen merasa jauh lebih buruk.
“Hanya ada 10 persen yang menyatakan tidak ada perubahan dan 2 persen merasa lebih baik,” ujarnya.
Kalau dilihat trennya, mirip dengan ekonomi rumah tangga, yakni pada Mei lalu sebanyak 98 persen merasa ekonomi Indonesia lebih buruk ketimbang tahun lalu. Artinya, 9 dari 10 orang Indonesia merasa kondisi ekonomi nasional pada Mei lalu sangat buruk.
ADVERTISEMENT
Tapi kemudian turun di awal Juli turun dan sekarang naik lagi menjadi 87 persen warga yang merasa ekonomi nasional dalam keadaan buruk dibandingkan sebelum ada virus ini.