kumparan
30 Mei 2018 12:44

Tak Ada Cadangan Baru, Produksi Migas Blok Mahakam Bakal Anjlok

Lapangan Senipah, Peciko & SPS Kutai Kartanegara (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Setelah 50 tahun dikelola oleh Total E&P Indonesie, mulai 1 Januari 2018 Blok Mahakam resmi dikelola PT Pertamina Hulu Indonesia, anak usaha PT Pertamina (Persero).
ADVERTISEMENT
Pemerintah telah memerintahkan kepada Pertamina untuk menjaga agar produksi minyak dan gas di Blok Mahakam jangan sampai anjlok.
Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, mengakui bahwa sulit untuk menahan produksi di Blok Mahakam. Selain sudah tua, Blok Mahakam tergolong kompleks. Menurut Alam, produksi Blok Mahakam pasti turun jika tak ada penemuan cadangan baru.
"Mahakam ini memang blok sudah 50 tahun, reservoir-nya banyak dan kecil-kecil. Kuncinya harus telaten. Memang saat tidak ada temuan baru, pasti produksinya decline, itu keniscayaan. Itu natural. Tantangannya bagaimana mencari titik-titik untuk kita produksikan lebih baik," kata Alam dalam diskusi dengan media di Jakarta, Senin (28/5).
Meski sudah tua, menurut Alam, Blok Mahakam masih prospektif. "Kita lihat masih prospektif atau tidak itu dari cadangannya masih berapa. Kalau kita investasi dengan benar, keluar uang sekian, kita bisa ambil produksi sekian banyak, masih untung. Di Mahakam masih untung," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Untuk menjaga produksi migas di Blok Mahakam, Pertamina menyiapkan USD 1,7 miliar atau Rp 23,8 triliun (kurs Rp 14.000) untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi.
Berdasarkan data SKK Migas, per November 2017, Blok Mahakam memproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel minyak per hari dan 1.360 juta kaki kubik gas bumi per hari (MMSCFD). Potensi di Blok Mahakam masih cukup menjanjikan. Cadangan terbukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barel minyak dan 45 juta barel kondensat.
Pekerja beraktivitas di Lapangan Senipah (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Realisasi produksi per 31 Januari 2018, pencapaian lifting dari blok ini rata-rata sebesar 31.053 BOPD (64% dari target APBN 2018) untuk minyak dan 969 MMSCFD (87% dari target APBN 2018) untuk penyaluran gas. Khususnya untuk minyak, produksi rata-rata mencapai sekitar 47.653 BOPD dan masih menunggu jadwal lifting untuk dapat memenuhi target di APBN 2018.
ADVERTISEMENT
Untuk pengiriman produksi gas (inlet gas) ke Kilang Bontang, rata-rata per 31 Januari 2018, dari target Blok Mahakam sebesar 1.108 MMSCFD, baru terpenuhi 966 MMSCFD, atau 87% dari target.
Pada 6 Februari 2018 lalu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengingatkan Pertamina Hulu Mahakam selaku operator Blok Mahakam untuk memenuhi target lifting yang telah disepakati dalam APBN 2018.
Blok Mahakam adalah pertaruhan besar untuk Pertamina. BUMN perminyakan itu harus bisa membuktikan kemampuannya. Blok penghasil gas terbesar di Indonesia ini berada di lepas pantai (offshore) dan tingkat kesulitannya tinggi. Jika berhasil menahan laju penurunan produksi (decline), tentu kapabilitas Pertamina tak perlu diragukan lagi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan