kumparan
Bisnis23 Mei 2020 13:16

Tak Ada Mudik dan PSBB, Konsumsi Masyarakat Diramal Minus 2 Persen di Lebaran

Konten Redaksi kumparan
Peningkatan Konsumsi Masyarakat saat Lebaran
Pengunjung berbelanja di supermarket. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Lebaran menjadi salah satu kegiatan yang dinanti masyarakat. Selain untuk bersilaturahmi, Idul Fitri menjadi momentum untuk meningkatkan perekonomian.
ADVERTISEMENT
Namun di tahun ini, Hari Raya Idul Fitri diperkirakan tak akan berdampak positif bagi perekonomian domestik. Adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan imbauan pelarangan mudik dinilai akan membuat konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi.
Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah memperkirakan, konsumsi rumah tangga di kuartal II kali ini atau adanya momentum Lebaran akan mengalami kontraksi sebesar 1-2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
“Untuk kuartal II tahun ini, di mana ada Lebarannya terjadi penurunan yang dalam secara yoy. Kuartal yang ada Lebaran biasanya terjadi pertumbuhan sekitar 5 persen lebih (yoy). Tahun ini diperkirakan akan turun menjadi sekitar minus 1-2 persen (yoy),” kata Piter kepada kumparan, Sabtu (23/5).
ADVERTISEMENT
Namun menurut Piter, proyeksi konsumsi rumah tangga saat Lebaran tersebut masih terbilang cukup baik. Apalagi PSBB dan larangan mudik juga tidak terlalu ketat.
“Pasar masih ramai dan banyak juga yang bisa melakukan mudik. Sehingga selama Lebaran ini perekonomian sedikit meningkat,” katanya.
Peningkatan Konsumsi Masyarakat saat Lebaran
Pengunjung berbelanja di supermarket. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Namun secara keseluruhan, perekonomian akan tetap mengalami kontraksi. Hal ini sejalan dengan banyaknya masyarakat yang terkena PHK akibat dampak pandemi COVID-19.
“Mereka yang masih memiliki daya beli juga menahan konsumsinya. Tahun ini tidak banyak yang belanja baju baru, apalagi beli motor baru, atau furnitur baru, kebanyakan hanya beli pangan,” tambahnya.
Ada pun di kuartal I 2020, konsumsi rumah tangga hanya 2,84 persen (yoy). Padahal di periode yang sama tahun lalu, konsumsi mencapai 5,02 persen (yoy).
ADVERTISEMENT
Berdasarkan komponennya, hampir seluruh komponen konsumsi mengalami perlambatan. Bahkan pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan turun 3,29 persen (yoy) serta transportasi dan komunikasi turun 1,81 persen (yoy).
Hanya komponen kesehatan dan pendidikan yang tumbuh hingga 7,85 persen (yoy) serta makanan dan minuman tumbuh 5,10 persen (yoy).
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
*****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan