kumparan
27 Agustus 2018 17:22

Tanpa Teknologi, Lifting Minyak RI Anjlok Jadi 281 Ribu Barel di 2030

RDP Komisi VII dengan Dirjen Migas, SKK Migas, dan 10 Kontraktor, Senin (27/8/2018). (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memprediksi pada 2030, lifting minyak mentah Indonesia hanya 281 ribu barel per hari (bph). Hingga akhir tahun ini, lifting minyak mentah diperkirakan hanya 775 ribu bph, lebih kecil dari target Dalam APBN 2018 mencapai 800 ribu bph.
ADVERTISEMENT
Itu artinya dalam 13 tahun ke depan, lifting minyak mentah dalam negeri akan anjlok sekitar 494 ribu bph. Wakil Kepala SKK Migas Sukandar menilai penurunan tajam itu akan terjadi jika eksploitasi pada sumur-sumur yang ada saat ini yang kebanyakan sudah uzur dilakukan tanpa teknologi canggih, Enhanced Oil Recovery (EOR).
“Skenario forecast (perkiraan) lifting minyak tanpa EOR (tahun 2017-2030) sekitar 281 barel per hari,” kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (27/8).
Dalam laporan yang dibawa Sukandar, lifting minyak tanpa EOR pada 2017 sebesar 804 ribu bph. Pada 2018 turun menjadi 775 ribu bph. Pada 2019 turun lagi menjadi hanya 750 ribu bph. Lalu pada 2020, target lifting minyak turun lagi menjadi 727 ribu bph, pada 2021 sekitar 670 ribu bph, 2022 turun lagi menjadi 643 ribu bph. Lalu pada 2023 hanya sekitar 601 ribu bph.
ADVERTISEMENT
Pada 2024 target lifting minyak turun lagi menjadi 529 ribu bph, kemudian pada 2025 menjadi 480 ribu bph dan di tahun 2026 akan turun lagi sekitar 419 ribu bph. Lalu pada 2027, target lifting minyak hanya sekitar 376 ribu bph, pada 2028 menjadi 334 ribu bph, pada 2029 akan turun lagi menjadi 311 ribu bph, dan pada 2030 menjadi hanya sekitar 281 ribu bph.
Tapi Sukandar menegaskan, laju penurunan masih bisa ditekan sedikit dengan catatan eksploitasi sumur-sumur tua itu menggunakan teknologi EOR. EOR merupakan teknik pengurasan sumur untuk memaksimalkan sumber minyak naik ke permukaan.
Kilang minyak milik Pertamina di unit IV (Foto: REUTERS / Darren Whiteside)
Dalam catatannya pada 2025, target lifting minyak bisa ditekan hingga mencapai 494 ribu bph. Lalu, pada 2026 menjadi 455 ribu bph, pada 2027 menjadi 446 ribu bph dan pada 2028 menjadi 459 ribu bph.
ADVERTISEMENT
“Dan pada 2029, dengan EOR, target lifting bisa naik menjadi 498 ribu bph. Lalu pada 2030 bisa naik lagi jadi 520 ribu bph,” jelas dia.
Untuk menggenjot itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan membentuk panitia kerja untuk penerapan teknologi EOR secara masif. Selama ini, teknologi pengurasan ini hanya diterapkan di beberapa lapangan yang merupakan pilot project.
“Minggu ini akan terbentuk. Saya menjadi ketua timnya dan wakil ketuanya itu Plt Dirut Pertamina,” kata dia.
Djoko bilang selama ini yang menjadi masalah dalam EOR adalah masalah bahan chemical yang digunakan. Selama ini, banyak kontraktor menggunakan bahan baku dari luar negeri. Padahal, di Indonesia juga sudah ada.
ADVERTISEMENT
“Kalau mereka masih enggak mau pakai produk dalam negeri berarti mereka mafia impor. Makanya kami sekarang punya produk dalam negeri juga (chemical untuk EOR), lebih murah tapi hasilnya boleh diadu, bisa tes di lab,” jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan