Bisnis
·
16 Oktober 2020 17:55

Tenant Diminta Tak Putus Asa Beralih Jualan Online, Mal Harus Punya Nilai Tambah

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tenant Diminta Tak Putus Asa Beralih Jualan Online, Mal Harus Punya Nilai Tambah (5982)
Ilustrasi mal. Foto: Pixabay
Mal atau pusat perbelanjaan dianggap sudah mulai tergerus dengan adanya kebiasaan belanja secara online. Kondisi tersebut membuat penyewa tenant mal mulai berpikir ikut masuk online.
ADVERTISEMENT
Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, merasa mal tidak harus langsung ikut online secara keseluruhan. Menurutnya, DNA mal adalah secara offline.
“Menurut saya jangan seperti itu. Yang harus dilakukan adalah berdamai dengan online shopping ini. Tapi bukan ikut-ikutan menjadi online shopping karena DNA nya shopping mal offline. Kalaupun memaksakan masuk ke online pasti dia akan kalah,” kata Alphonzus saat webinar yang digelar MarkPlus, Jumat (16/10).
Alphonzus merasa keunggulan secara offline harus diperkuat. Ia menjelaskan saat ini mal tidak lagi identik sebagai tempat shopping atau berbelanja. Alphonzus mengungkapkan banyak mal bisa bertahan karena di dalamnya ada sesuatu lain yang ditawarkan selain berbelanja.
“Banyak mal yang sukses itu ia memposisikan dirinya shopping plus sesuatu. Mal yang sukses harus bisa memposisikan diri fungsinya shopping harus ada tambahannya lagi apa,” ujar Alphonzus.
Tenant Diminta Tak Putus Asa Beralih Jualan Online, Mal Harus Punya Nilai Tambah (5983)
Petugas kebersihan membersihkan meja di mall Senayan City, Jakarta. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Alphonzus mencontohkan beberapa mal seperti di Singapura, Hong Kong, dan Tokyo tidak hanya untuk belanja, tapi ada tambahannya sebagai koneksi. Hal itu dilihat dari mal yang dekat dari transportasi umum, kantor, hingga apartemen atau tempat tinggal.
ADVERTISEMENT
“Jadi ini adalah koneksi. Jadi orang mau ke apartemen, ke MRT dia harus lewati mal. Dari mal kalau mau ke MRT otomatis dia lewatin atau sebaliknya, dia lewatin mal kalau ke office,” ujar Alphonzus.
“Mal menjadi koneksi. Jadi fungsi shoppingnya sudah bertambah dengan fungsi lain. Di Indonesia juga sama ada kita lihat fungsi tambahan dari sekadar shopping,” tambahnya.
Alphonzus mengatakan fungsi tambahan tersebut bisa disesuaikan dengan keadaan mal di wilayah masing-masing. Ia mengharapkan pengelola mal harus menyadari kalau memang fungsi utama mal saat ini tidak untuk shopping.
“Ini yang akan terjadi karena fungsi shoppingnya sekarang sudah sebagian tergantikan oleh online. Jadi pusat perbelanjaan yang DNA nya tadi offline harus bisa memberikan satu fungsi lagi dan itu jadi fungsi utama, baru shopping lagi. Kita tidak tahu beberapa tahun lagi siklus ini akan berubah. Bisa saja shopping jadi yang utama lagi,” tuturnya.
ADVERTISEMENT